|
| [Seri Kehidupan di Jepang] Bila ada yang meninggal di Jepang |
|
|
| ditulis oleh Endrianto Djajadi | |
| 31/01/2010 | |
|
SKJ atau Seri Kehidupan di Jepang ini adalah tulisan bebas saya, yang saya ambil dari pengalaman yang saya alami selama hidup di Jepang ini dan juga informasi dari beberapa teman. Walaupun tidak lengkap, paling tidak dapat memberikan informasi bagi teman2 yang sekarang tinggal di Jepang. Kalau ada masukan2 dan saran2 sangat ditunggu sekali.
Untuk yang pertama kali, saya mengambil judul hal-hal yang perlu disiapkan bila ada keluarga kita atau teman kita yang meninggal di Jepang ini. Tulisan ini ditulis berdasarkan pengalaman saya mengikuti proses ketika teman saya meninggal 1.5 tahun yang lalu dan istri teman saya 2 pekan yang lalu. Mudah2 an bermanfaat.
============ ========= ========= ========= ========= ===
Proses bila ada yang meninggal di Jepang
Bila meninggal bukan di rumah sakit maka jenazah akan diserahkan ke kepolisian dan polisi akan meneliti penyebab kematian tersebut.
Apakah memang meninggal karena sakit atau karena pembunuhan atau yang
lainnya. Polisi akan memanggil orang-orang yang terdekat dengan
almarhum.
Yang perlu dilakukan : Telp : 03-3441-4201 ext. 425, Fax : 03-3447-1697 (Sumber : http://indonesianem bassy.jp/)
Bila ada kematian maka yang bertanggung jawab di KBRI adalah bidang konsuler. Bila ada urusan dengan kepolisian, Bidang Konsuler ini yang menjadi penjamin bahwa jenazah memang WNI. Setiap ada kematian di Jepang dan ditangani oleh kepolisian harus ada orang KBRI yang langsung datang ke kepolisian, karena kepolisian tidak akan melepas jenazah sebelum ada penjaminnya. Bidang Konsuler ini yang akan membantu membuatkan surat-surat yang diperlukan seperti surat untuk mengurus pemulangan jenazah ke Indonesia, surat untuk mengambil jenazah di bagian cargo di Indonesia.
2. Bila jenazah adalah muslim maka perlu menghubungi pengurus
KMII Jepang untuk meminta bantuannya dalam memandikan, mengkafani dan menshalatkannya. Ini untuk warga Tokyo dan sekitarnya. Alternatif lainnya adalah menghubungi mesjid atau pengurus pengajian setempat. Untuk yang diluar kanto atau kansai, bisa dilakukan oleh pengajian setempat tanpa harus memanggil pengurus KMII Jepang/KMII Kansai
3. Menghubungi pemberi beasiswa bila mahasiswa atau kantor bila sudah bekerja.
Perjelas apakah pemberi beasiswa atau kantor memberikan bantuan atau asuransi untuk jenazah. Untuk mahasiswa atau jenazah adalah keluarga dari Mahasiswa sebaiknya menghubungi juga Atase Pendidikan KBRI Tokyo sebagai informasi awal mengenai kematian ini.
03-3441-4201 ext. 240, Fax :03-3447-1697 (Sumber : http://indonesianem bassy.jp/)
4. Bila ingin dibawa pulang ke Indonesia maka perlu menghubungi Perusahaan yang mengurus tentang hal ini. Untuk teman-teman di sekitar Tokyo, biasanya KBRI Tokyo menggunakan jasa Yoshida san.
Hal-hal yang didapat dengan menggunakan Yoshida san adalah :
1) Mereka yang mengambil dari kepolisian dan membawa ke tempat dimandikan, dikafani dan dishalatkan. (Biasanya dilakukan di KBRI)
2) Menyediakan Peti Jenazah yang cukup tebal.
3) Mengurus beacukai di Jepang utk mengeluarkan jenazah dari Jepang.
4) Membawa jenazah ke cargo pesawat garudaBila akan diberangkatkan besok hari dengan Pesawat Garuda maka Jenazah harus sudah masuk Cargo di Narita jam 20:00 hari sebelumnya. Oleh karena itu proses memandikan, mengkafani dan menshalatkan diharapkan dapat seleseai sebelum sore hari.
5) Memberikan bahan pengawet dan juga ice dry Jenazah akan tahan sampai 7 hari.
Bila menggunakan Yoshida san ini, keluarga
di Indonesia perlu menyewa Mobil Ambulance untuk mengangkat jenazah dari bandara ke rumah duka.
5. Menghubungi teman-teman yang meninggal untuk membantu dalam pengurusan jenazah, baik mempersiapkan tempat mandi, mengkafani dan menshalatkan.
6. Menghubungi teman-teman yang meninggal untuk mengumpulkan dana yang akan diberikan kepada keluarga jenazah. Bisa melalui SMS atau milis. Diusahakan untuk mengumpulkan dana sebesar 1 juta yen dalam waktu 1 pekan. Pembayaran kepada Yoshida san bisa dilakukan 2 tahap.
Tahap pertama setengah dari biaya dan sisanya dapat dilakukan setelah jenazah sampai di Indonesia. Hal ini dapat terlaksana bila ada orang atau organisasi yang menjamin akan melunasi uang tersebut. Mengenai pembayaran dan biaya perlu negosiasi dengan Yoshida san.
7. Menghubungi keluarga terdekat dari yang meninggal baik yang berada di Jepang maupun yang ada di Indonesia. Sampaikan hal2 yang perlu dipesiapkan seperti Mobil Ambulance dan informasi kapan jenazah akan tiba di Indonesia.
8. Bila ada keluarga yang ditinggalkan di Jepang dan akan ikut pulang bersama jenazah, perlu dicarikan tiket pulang bagi keluarga yang ditinggalkan di jepang. Keluarga yang ditinggal di Jepang dan akan mengantarkan jenazah ke Indonesia dan berencana akan kembali ke jepang lagi, perlu membuat Re-entry permit. Bila waktu tidak memungkinkan untuk pergi ke Imigrasi, dapat membuat Re-Entry Permit di Bandara dengan alasan darurat.
9. Mengurus hutang piutang seperti kartu kredit dll dan juga hal-hal penting lainnya seperti tabungan di bank, pelunasan peminjaman rumah, pengepakan barang-barang almarhum dan menghubungi pihak keluarga di Indonesia mengenai barang-barang tsb, apakah akan dikirim ke Indonesia atau dihibahkan ke teman-teman di Jepang atau dibuang.
Alternatif lain :
1. Jenazah dikubur di Jepang. Dapat menghubungi teman-teman di Mesjid Otsuka. Kalau melalui Mesjid Otsuka biasanya akan dikubur di pemakanan muslim di Yamanashi. Biaya 320.000. (Info dari teman yang tinggal di dekat Mesjid Otsuka)
2. Pemulangan jenazah tidak memakai jasa Yoshida san tapi dilakukan sendiri seperti teman-teman di Fukuoka 5 tahun yang lalu. Paling mahal hanya memerlukan 300.000 - 400.000.(Info dari teman yang pernah mengurusnya di Fukuoka) |