Di awal tahun 2007, dunia dikejutkan dengan matinya sekitar 1500 ekor anjing dan kucing di Amerika dan di China. Berdasarkan hasil penyelidikan FDA (BP-POM-nya Amerika)[1], diketahui terdapat kandungan melamin pada makanan kaleng anjing buatan China. Dan sekitar 60 juta kaleng makanan anjing buatan china dikembalikan ke negara asalnya. Sayangnya karena yang mati hanya hewan dan tidak menimbulkan dampak bagi manusia, tidak ada tindakan hukum bagi produsen makanan tersebut.
Namun di musim panas 2008, dunia kembali digemparkan dengan berita kematian dan keracunan, yang kali ini diaalami bayi di China setelah mengkonsumsi susu bubuk. Berdasarkan laporan pers China, dilaporkan 6 bayi meninggal dan 54,000 bayi mengalami keracunan akibat gagal ginjal akut. Tidak hanya berhenti di China, susu bubuk tersebut ternyata telah diekspor ke Hongkong dan Taiwan. Ditambah lagi, Nestle, perusahaan susu asal Swiss, juga diketahui menggunakan susu bubuk asal China
tersebut untuk produknya. Jepang dan Amerika pun menjadi kelabakan,
karena diketahui banyak produk makanannya, es krim dan snack,
menggunakan susu bubuk buatan china sebagai bahan dasarnya. Walaupun
saya belum pernah memakannya (Alhamdulillah), White Rabbit creamy
candy, permen yang katanya lezat dan telah diekspor ke 50 negara
(termasuk Indonesia), juga diketahui mengandung melamine.
Apa itu melamine?
Dilihat dari strukturnya, seperti terlihat pada gambar disamping, melamin terdiri atas 3 buahcyanamide (N≡CNH3)
yang saling berikatan. Melamine sendiri memiliki nama IUPAC yaitu
1,3,5-triazine-2,4,6-triamine, memiliki sifat mudah larut dalam air
(3.1 g/L). Melamine bila dicampur dengan formaldehyde (HCHO) akan
menjadi plastik yang mengeras bila dipanaskan (thermosetting), yang
digunakan secara luas pada piring, rak, papan lantai, meja dapur, dan
lain-lain. Melamin juga digunakan sebagai bahan membuat tinta dan
pupuk.
Kenapa zat ini dicampur ke susu?
Sebelum
membahasnya, mungkin ada baiknya kita mengenal sedikit tentang protein.
Protein merupakan senyawa yang tersusun atas paduan berbagai macam asam
amino, karena itu banyak terkandung unsur nitrogen (N). Sedangkan susu
sendiri terdiri atas 2 zat, yaitu laktosa dan protein. Karena laktosa
tidak mengandung unsur nitrogen, sehingga bila hasil analisis kandungan
nitrogen (N) susu tinggi, maka kandungan protein susu otomatis juga
tinggi. Kalau kita lihat struktur melamin sendiri, ada 6 unsur nitrogen
didalamnya. Sehingga, jika melamin ditambahkan pada susu, maka susu
tersebut seolah-olah mengandung banyak protein, padahal tidak.Berdasarkan pengakuan produsen susu (Sanlu) yang ditahan pihak polisi China,
sebelum memakai melamin, mereka telah mengajukan izin penjualan susu
berkali-kali ke pemerintah, namun gagal akibat kandungan protein yang
rendah dan tidak memenuhi standar. Dan ketika mereka menambahkan
melamin pada susu tersebut, susu tersebut lolos dari pemeriksaan dan
mereka dengan cepat memperoleh izin penjualan. Sama halnya ketika
pengajuan izin penjualan kaleng makanan anjing untuk ekspor ke Amerika,
produsen dengan liciknya menambahkan melamin, agar kandungan protein
pada produk mereka terlihat banyak.
Fig. 2. Struktur melamin-asam sianurik[2]
Bahayakah melamin?
Berdasarkan data MSDS, LD50 dari melamin adalah 3296 mg/kg (berat tikus)[3]. LD50 (Lethal
dose 50% kill) merupakan standar untuk penentuan bahan itu beracun atau
tidak, yang memiliki arti seberapa banyak zat yang diperlukan untuk
mematikan setengah hewan (seperti tikus atau kelinci) yang digunakan.
Semakin kecil nilai LD50, semakin berbahaya zat tersebut. Standar nilai LD50
untuk zat beracun adalah dibawah 50 mg/kg sedangkan zat yang
dikategorikan tidak baik untuk kesehatan adalah dibawah 300 mg/kg. Bisa
diambil kesimpulan, sebenarnya zat melamin sendiri tidak berbahaya bagi
tubuh. Dari
hasil pemeriksaan otopsi kucing dan anjing yang mati yang sempat
dibahas di awal, diketahui tidak adanya kerusakan pada jaringan tubuh
atau gejala kekurangan darah, hanya ada satu karakteristik yang sama,
yaitu ditemukannya batu putih pada ginjal. Hasil dari analisis zat,
diketahui bahwa batu tersebut merupakan hasil dari ikatan (ikatan
hidrogen) antara asam sianurik (cyanuric acid) dan melamin (lihat Fig.
2). Asam sianurik sendiri merupakan hasil perubahan melamin di dalam
tubuh. Surat
kabar di Jepang sendiri memberitakan batu/gumpalan ginjal sebagai
penyebab kematian. Hanya saja, batu tersebut bukanlah batu ginjal pada
umumnya yang merupakan gumpalan dari senyawa kalsium fosfat, asam urik,
dan lain-lain. Batu akibat gumpalan protein pun ada, walaupun sangat
jarang. Biasanya, batu ginjal pada manusia banyak berupa satu buah batu
saja, yang bisa menyebabkan rasa sakit yang sangat walaupun tidak
sampai menimbulkan kematian. Adapun penyebab kematian dari kasus ini,
jumlah batu ginjal yang merupakan hasil dari gumpalan senyawa asam
sianurik-melamin, tidak hanya berjumlah satu saja, namun banyak
jumlahnya. Mengakibatkan ginjal tidak berfungsi sebagaimana mestinya.
Dari kasus ini selain menimbulkan banyak korban jiwa dari pihak
konsumen (bayi), juga telah menyeret pegawai dan bos produsen susu
tersebut ke meja pengadilan, dua dari bos perusahaan tersebut telah
dikenakan hukuman mati oleh pengadilan China. Selain itu, kasus ini juga membuat image produk China semakin buruk di mata dunia, setelah kasus keracunan gyoza (makanan
dari kulit lumpia yang isinya daging/sayur). Di China sendiri, ternyata
tidak ada aturan/hukum yang melarang penggunaan melamin pada susu.
Berbeda dengan negara-negara tetangga seperti Taiwan yang secara ketat melarang penggunaan melamin diatas 0.05 ppm pada susu.
Referensi
2. Majalah “Kagaku“ Vol 63 no. 12
|