Beranda arrow Pengembangan Diri arrow Nge-Lab HI di Negeri Momiji
semi color panas color gugur color dingin color
 
 
Nge-Lab HI di Negeri Momiji Print E-mail
ditulis oleh Ayu   
15/08/2008

Sample Image

“Kalau kalian hanya kuliah HI di ruang kuliah, sama saja kalian tidak belajar Hubungan Internasional. HI yang kalian pelajari itu ‘Hanya Imajinasi’. Dosen-dosen bercerita tentang luar negeri, berteori tentang diplomasi, dan kalian harus puas berdiskusi panjang lebar tentang luar negeri dalam tataran imajinasi saja. Lalu ujung-ujungnya ilmu itu tak terpakai karena kebanyakan lulusan kita hanya jadi pegawai bank, bukan diplomat HI.”

Kira-kira seperti itu selorohan-selorohan kakak angkatan tentang jurusan kami, Hubungan Internasional UGM. Dan kenyataannya memang tidak jauh dari selorohan itu. Aku merasa tidak begitu banyak belajar di ruang kuliah. Mengingat teori-teori dan kasus HI menjelang ujian, lalu mungkin akibat system belajar kebut semalam, ilmu itu tak banyak melekat. Aku justru merasa belajar politik, teknik diplomasi, atau struktur kekuasaan saat berada di luar ruang kuliah. Karena politik pada dasarnya adalah usaha untuk mencapai kepentingan dan tujuan kita, mempengaruhi orang lain untuk bersedia (secara sadar atau tidak) berjalan satu haluan dengan kita. Dengan definisi itu, sadar atau tidak semua orang pasti berpolitik. Dan setahunku di Jepang semakin menyadarkan bahwa HI, politik, dan diplomasi punya hubungan erat dengan dakwah. 

Alhamdulillah, aku mendapat kesempatan untuk nge-lab HI di Jepang dalam label program pertukaran pelajar. Kebetulan saja, karena terpilihnya aku bukan karena aku mahasiswa istimewa di HI. Bahkan satu pertanyaan yang masih sulit kujawab sejak pertama kali datang ke Jepang hingga pulang ke Indonesia adalah alasan mengapa datang ke Jepang. Tidak ingin ber-Hanya Imajinasi menjadi satu dari banyak alasan mengapa aku mendaftar beasiswa pertukaran –yang saat ide muncul, tawaran yang ada adalah untuk pertukaran di Jepang. Kebetulan juga, kesempatan beasiswa yang kucoba ini sepi peminat, tidak seperti tahun-tahun biasanya yang peminatnya membludak. Lalu ada pertanyaan lain mengejar, “Kenapa bisa sedikit yang mendaftar?” Kali ini aku bisa menjawabnya sambil tersenyum. “Karena bila yang mendaftar banyak, maka mungkin aku kalah saingan dan tidak jadi ke Jepang.” Dan dari sanalah kudapatkan jawaban pasti, mengapa ke Jepang? Karena memang jalan hidupku menggariskan ada episode hidup di Jepang yang harus kujalani. Kesempatan yang diberikan untuk nge-lab HI, menghubungkan ilmu diplomasi dan sedikit pengetahuanku tentang kewajiban dakwah bagi setiap muslim, di manapun kita berada.

Pertama kali datang, tentu saja aku sempat shock culture. Sebelum aku datang ke Jepang, aku tinggal di asrama dengan banyak teman dengan pemahaman Islam yang hampir sama. Seragam, sepakat, dan sepikiran tentang mana yang boleh mana yang tidak boleh. Sedang semangatnya ber-kibishii menjaga mana yang halal, mana yang tidak halal. Sepakat untuk mana yang boleh dilakukan mana yang tidak boleh. Dan rasanya itu begitu mudah dilakukan saat bersama. Saat tidak perlu susah-susah menjelaskan mengapa begini, mengapa begitu karena orang-orang sepakat dengan apa yang kita lakukan. Mengapa harus sholat, mengapa kadang perlu puasa sunnah, mengapa memakai jilbab atau pakaian yang seperti ini, mengapa tidak boleh makan ini dan itu, dan semua mengapa yang sebelumnya bukan hal yang perlu dijawab itu kemudian justru ditanyakan oleh banyak teman baruku di Jepang.

Setahun di Jepang membuat kesan seakan kita memang ke Jepang tidak untuk belajar serius. Studi wisata, kata kakakku untuk program tanpa gelar ataupun transfer kredit ini. Dengan demikian, rasanya wajar untuk mengisinya dengan bersenang-senang, pesta, membuat kenangan, atau jalan-jalan bersama teman sebagai kegiatan utama. Di Indonesia, aku bukan orang yang tipe orang yang suka pergi bergerombol dengan banyak orang untuk bersenang-senang. Tapi bila aku memberlakukan sama ketatnya saat di Jepang, tentu aku kehilangan semua kesempatan untuk bergaul dengan mereka, istilahnya kehilangan momen berhubungan interpersonal dalam hubungan internasional. Maka di sanalah aku belajar bernegosiasi, menjelaskan bahwa aku tidak bisa makan ini dan itu, bahkan di akhir kukuatkan untuk mengganti ajakan makan di restoran yang masih menjual menu babi ke pilihan lain yang belum tentu bisa cocok dengan lidah mereka tapi insyaAllah bisa dikatakan halal. Ngeri membayangkan alat-alat masak yang dipakai adalah bekas memasak menu babi, walau ada juga yang berpendapat bahwa itu bagian dari kesulitan yang bisa ditolerir.

Aku juga jadi belajar berdiplomasi mengenai waktu shalatku, dengan menolak bergabung di acara yang akan sulit untuk shalat atau menego waktu agar tidak mengganggu waktu shalat. Namun dengan munculnya pertanyaan berulang ‘apakah kamu tidak merasa bosan shalat?’ membuatku jadi khawatir kalau-kalau usahaku diplomasiku itu sudah salah jalan dan justru membuat Islam tampak sebagai suatu hal yang berat dan tidak menyenangkan. Banyak pertanyaan yang berkecamuk di kepalaku saat menghadapi pertanyaan itu. Kalau ia bertanya apa aku tidak bosan shalat, justru yang ada di kepalaku adalah apa mereka tidak pernah merasa butuh beribadah kepada Tuhan –dengan shalat misalnya?

Selain kuliah wajib bahasa Jepang, aku mengambil beberapa mata kuliah lain, salah satunya kuliah Japanese Religions. Tidak tahu mengapa, tidak ada materi yang nyangkut di kepalaku tentang kamisama-kamisama ala Jepang. Beberapa kali aku justru menjadikannya pelajaran agama Islam dengan melayani pertanyaan teman sebangkuku tentang Islam, tentang catatan pahala dan dosa yang akan dihitung dan menjadikan kami harus senantiasa berbuat baik di dunia, tentang kehidupan sesudah mati dan hal-hal lainnya. Ternyata sulit untuk bisa menjelaskannya dengan bijak. Bila berhasil berdiplomasi dengan baik, maka mungkin kesan Islam yang tersampaikan akan menarik, namun bila gagal menjadi sebaliknya. Sebuah lab HI yang cukup sulit bagiku.

Ada juga kekecewaan-kekecewaan yang kudapati. Kecewa karena ternyata banyak saudara semuslimku, dari berbagai negara, yang tidak shalat ataupun melaksanakan aturan lain. Dalam pandangan idealku –apalagi dengan latar belakang tinggal dengan orang-orang yang mungkin tidak pernah berpikir akan absent shalat, hal itu jadi sulit untuk kuterima. Namun itu sering kusimpan saja, hingga sebelum pulang aku sempat berdiskusi dengan teman muslimku. Ada satu pernyataannya yang cukup mengagetkanku. “Aku senang berteman denganmu karena kamu tidak pernah memaksaku shalat, Yu! Aku tidak suka dipaksa melakukan sesuatu,” ungkapnya. Hal yang cukup kontradiksi dari perasaanku, karena pada sebenarnya aku merasa bersalah karena tidak pernah mengingatkannya untuk shalat. Hanya karena merasa hubungan kami belum dekat saja, sehingga aku memilih tidak pernah menegurnya. Lalu kami berbagi cerita tentang bagaimana masa kecil kami belajar Islam dan alasan-alasannya mengapa kini ia enggan melaksanakan kewajibannya sebagai muslim dan kenapa aku terbentuk menjadi seperti saat ini. Ternyata, aku memang perlu lebih membuka mata, berusaha memahami sebelum berprasangka, dan menghormati pendapat dan keputusan orang lain.

Di kesempatan lain, aku juga menemukan lingkungan bersama mualaf-mualaf yang begitu semangat belajar Al-Qur’an. Mengeja huruf-huruf Al Qur’an dan berusaha keras melafalkannya dengan lidah Jepang mereka. Mengaku iri pada muslim-muslim di Indonesia atau negara-negara mayoritas muslim lain yang tentunya akan mudah menemukan lingkungan yang islami. Satu hati menjadi miris karena seandainya mereka melihat masyarakat muslim di Indonesia dengan mata kepala mereka sendiri, mungkin yang ada tidaklah seindah dalam bayangan mereka sebelumnya. Kami justru masih harus banyak belajar mempraktekkan akhlak muslim yang baik dari orang-orang di Jepang.

Waktu berjalan begitu cepat. Lab-HI-ku segera berakhir. Namun tetap saja aku merasa masih belum belajar banyak dari diplomasi dan dakwah. Selama di Jepang, aku banyak belajar menyikapi perbedaan, menghargai budaya orang lain dan budaya kita sendiri, mencari jawab tentang hakikat kemuslimanku dan kewajiban dakwah di manapun kita berada, dan masih banyak hal berharga lain. Mulai dari hal kecil seperti betapa berharganya arti sebuah perintah senyum dan berwajah ceria dalam tuntunan Islam. Karena dari situlah mungkin jadi pembuka dakwah kita. Pernah kuterkejut karena temanku meminta maaf karena ia memakai rok pendek karena merasa tidak enak kepadaku yang selalu memakai pakaian panjang. Terkejut lagi saat ada teman yang mengingatkanku untuk memakai deker agar auratku tertutup sempurna. Bahkan ada yang memilih memberi kenang-kenangan kompas kepadaku karena aku sering lupa membawa kompas ketika harus shalat di luar kamar. Dan meskipun lab-HI ku belum bisa dikatakan sukses, aku sudah cukup senang mendapat testimony bahwa mereka senang berteman denganku selama setahun ini. Aku senang bisa mengenalkan sedikit tentang Islam pada mereka, senang bisa mempopulerkan bahasa Indonesia di kelasku, hingga sebagian teman sudah fasih mengucap terima kasih atau apa kabar. Bahkan mereka ingin mencari orang yang pintar berbahasa Indonesia di negara mereka nanti untuk menerjemahkan catatan-catatanku tentang kisah persahabatan kami yang kutulis dalam bahasa Indonesia.

Ya, hampir semua selaksa tanya, pergulatan pikiran, dan setiap kasus dalam lab-HI-ku di Jepang kucoba kutuliskan untuk mengikat kenangan itu. Kisah pertemanan dengan banyak perbedaan budaya dan pola pikir, usaha untuk saling memahami, harapan-harapan masa depan, berhasil kuselesaikan sebelum pulang. Sebut saja, laporan lab-HI-ku. Dalam kisahku itu kami berjanji untuk bertemu lagi suatu hari nanti. Sehingga secara tidak sadar, akupun tersugesti bahwa kami kelak akan bertemu lagi suatu hari nanti. Membuatku merasa lebih ringan ketika tiba saat mengucap selamat tinggal. Karena InsyaAllah, kita akan bertemu lagi, suatu hari nanti, di suatu tempat.

 

Untuk sahabat-sahabatku, jazakumullahu khairan katsira untuk uluran persahabatan dan persaudaraannya di Jepang.

Ayu

Exchange student 2007/2008