Karangan Bebas
Suatu Pagi di Perpustakaan
| Suatu Pagi di Perpustakaan |
|
|
| ditulis oleh Nesia Andriana Arief | |
| 09/06/2008 | |
|
Saya tidak tahu
apakah secuil kelompok pecinta perpustakaan ini bisa mewakili warna masyarakat
Jepang umumnya. Apakah ruang belajar publik yang demikian penuh di hari libur, dengan cuaca secerah dan sehangat hari ini, membolehkan saya
untuk menggeneralisasi Jepang keseluruhannya : sangat rajin
belajar? Saya tidak tahu, karena sampai sekarang ini baru sekitar empat
perpustakaan yang pernah saya kunjungi. Satu perpustakaan di Arima-ku Kawasaki,
satu di Universitas Teknologi Tokyo, satu lagi masih di kawasan Fujisawa, dekat
Stasiun Zengyou, dan yang terakhir perpustakaan pusat milik provinsi, di Yokohama.
Maksud untuk cepat-cepat menggeneralisasikan tingkat kerajinan
belajar orang Jepang hanya lewat pemandangan beberapa kali di perpustakaan ini,
mengingatkan saya pada pengalaman berkunjung ke perpustakaan Universitas
Teknologi Tokyo. Universitas yang bila di Indonesia
statusnya mungkin mirip dengan ITB itu, memiliki beberapa kampus, yang besar
ada di Suzukakedai –
Yokohama, dan satu lagi di Oookayama – Tokyo.
Perpustakaan yang
saya kunjungi berada di kampus Tokyo. Berkebalikan dengan perpustakaan di sini, suasananya saat saya kunjungi sangat
sepi. Banyak meja dan kursi yang tak berpenghuni. Mungkin karena perpustakaan itu memang
terletak di dalam kompleks institusi pendidikan, sehingga sudah tentu memiliki juga
lokasi-lokasi belajar lain yang tersebar di wilayah yang luasnya lebih 24
hektar. Mereka yang memerlukan suasana yang nyaman untuk belajar, bisa memilih
tempat lain, tidak hanya di perpustakaan yang merupakan gedung tersendiri. Atau mungkin juga karena memang saat itu
sedang tidak musim ujian? Menurut suami yang saat itu sedang berstatus
mahasiswa di sana, bila musim ujian mendekat, akan sulit mendapatkan kursi
kosong di perpustakaan.
Perpustakaan yang
saat ini saya datangi memang relatif cukup kecil, dengan luas hanya sekitar 8 x
10 meter, dan itu juga mungkin sebabnya terasa selalu penuh. Dibandingkan
dengan perpustakaan provinsi yang ada di Yokohama, perpustakaan ini kira-kira
hanya seperlimanya. Gedung perpustakaan ini hanya tiga lantai, dengan luas yang
saya bisa kelilingi dalam waktu sekitar satu atau dua menit. Sedangkan gedung
perpustakaan pusat di Yokohama, yang lokasinya berdekatan dengan Kebun Binatang
Negoyama, ada sekitar tujuh tingkat, dengan luas yang kira-kira dua atau tiga
kali perpustakaan ini. Seingat saya, salah satu lantainya diperuntukkan khusus
audio-visual, dari koleksi film, lagu, rekaman berita televisi, hingga ke
peralatan untuk melihat atau mendengarkannya langsung di tempat.
Bicara seperti
ini saya kembali merasa cemburu lagi dengan masyarakat setempat. Mungkin ini kedengarannya agak picik dan
tidak ter-update lagi. Saya bayangkan kalau fasilitas serupa diadakan di
negara kelahiran saya, barangkali barang-barang elektronik yang bisa dipakai
siapa saja itu akan cepat rusak, bahkan mungkin tidak keterlaluan bila muncul
perasaan was-was akan dicuri orang. Bukan hanya itu, barangkali pula proses
pengadaannya sudah menjadi peluang bagus buat koruptor untuk meraup untung
lagi. Yah, sudah kebanyakan warga kurang pandai merawat fasilitas bersama, yang
mengadakan juga berpikir egois untuk meraup untung pribadi. Wajarlah kalau
harapan untuk bisa menikmati fasilitas serupa di negara sendiri, seperti mimpi
yang tertumbuk pada untaian benang kusut.
Saya bolak-balik
saja mengelilingi ruang-ruang perpustakaan mencari tempat duduk kosong, sembari
berpikir keras akan saya apakan waktu di pagi hari ini. Waktu yang jarang-jarang
datang pada saya yang berprofesi utama sebagai ibu rumah tangga tanpa pembantu
dengan tiga anak bawah sepuluh tahun. Pulang saja? Ah, kedengarannya
mengecewakan sekali.
Setelah agak lama
berputar ke sana ke mari mengusik konsentrasi orang-orang yang mayoritas berkulit
kuning dan bermata sipit, akhirnya saya coba duduk di sebuah kursi yang juga
dilengkapi meja belajar di dekat deretan buku anak-anak. Begitu duduk, saya langsung
merasa kurang nyaman. Kursi dan meja yang tadi kelihatannya ukurannya cukup
besar sehingga saya pikir memang diperuntukkan bagi orang dewasa, ternyata
dipasang cukup rendah. Tentunya diperuntukkan bagi anak-anak. Untuk sementara
ketidaknyamanan itu tidak terlalu saya pedulikan. Saya mengeluarkan bahan
bacaan dan mencoba menelusuri baris demi baris. Namun ternyata posisi duduk
yang tidak pas bagi tubuh dewasa saya, cukup menyulitkan juga untuk berkonsentrasi.
Tengok kiri-kanan
belakang, di sekitar saya hanya ada anak-anak kecil. Ada yang sibuk mencari
buku, ada juga yang sedang memakai komputer yang bisa memberikan informasi
seputar fasilitas, sarana, dan buku-buku perpustakaan. Tak ada yang melirik-lirik
saya, sebagaimana kebiasaan orang Jepang bila ada yang melakukan sesuatu yang
tidak sesuai dengan aturan. Menyadari tak ada yang perhatiannya tetarik pada
aktivitas saya di meja tersebut, saya jadi cukup yakin tak salah duduk di situ,
dan kembali mencoba membaca.
Berlanjutnya
gangguan konsentrasi pada bacaan tersebut membuat saya memilih memandangi jendela
besar tembus pandang di hadapan saya. Di luarnya, terdapat sebuah meja besar
memanjang sekitar satu setengah kali dua meter. Di masing-masing sisi
panjangnya tersedia pula bangku seperti bangku taman, tanpa sandaran. Meja dan
kayu itu terbuat dari kayu. Meski sudah bukan berada di dalam ruangan tertutup,
namun perancang perpustakaan ini masih memikirkan untuk membuatkan atap di sisi
samping perpustakaan itu. Atapnya adalah atap alami, yaitu terbuat dari
kayu-kayu yang disusun bercelah-celah, yang dijadikan tempat melilitnya
tumbuhan menjalar.
Pohon itu namanya
pohon Fuji, yang pada permulaan musim gugur, biasanya berbunga cukup cantik. Bentuknya
seperti buah anggur ungu bertandan-tandan, berbongkah-bongkah mengerucut ke bawah
sepanjang sekitar 20-40 senti. Pohon Fuji ini kabarnya banyak sekali terdapat
di daerah ini, dan menurut salah seorang kawan yang merupakan penduduk asli
setempat, maraknya pertumbuhan pohon tersebut menjadi sebab tempat ini diberi nama
Fujisawa. Sebelum mendapat penjelasan langsung dari penduduk lokal, dulu saya
mengira nama tempat ini dilatarbelakangi oleh pemandangan Gunung Fuji yang bisa
dilihat dengan cukup jelas dari sini. Begitu jelasnya, hingga bisa tampak
perbedaan warnanya di musim dingin. Setengahnya ke atas sampai puncak berwarna
putih karena tertutup salju, sedangkan setengahnya lagi ke bawah sampai kaki
gunung berwarna hijau kebiruan, pertanda di sana tumbuh pohon dengan sangat
rimbun.
Ada tiga set
meja-bangku kayu yang berjejer di lokasi samping gedung ini. Dua set di
antaranya sudah ada penghuninya. Penghuni meja tengah tidaklah membaca tidak
pula menulis, melainkan duduk bertelekan dengan kaki diselonjorkan sepanjang
bangku, dengan telepon genggam menempel di telinganya. Saya tidak yakin apakah
ia sedang menggunakan alat itu sebagaimana tujuan utama pembuatannya :
berkomunikasi jarak jauh, ataukah sedang mendengarkan lagu, karena mimiknya
begitu hampa dan bibirnya sama sekali tidak bergerak. Meja yang satu lagi, yang
terletak paling ujung dari tempat saya berdiri, sedang dihuni seorang kakek
tua. Seorang diri juga. Namun berbeda dengan anak muda yang di tengah itu, ia
sedang asyik membaca, meski yang dibacanya adalah koran. Kenapa ”meski”? Karena
untuk membaca koran saya pikir tidak perlu sampai datang ke perpustakaan. Ah,
tapi itulah. Persoalannya mungkin bukan pada apa yang dibaca dan di mana
dibaca, tetapi pada suasana tenang dan damai di perpustakaan ini. Barangkali
banyak orang yang bila sudah menjadi tua
seperti kakek itu, merasa senang menghabiskan waktu di tempat seperti ini.
Saya letakkan tas
sandang dan tas komputer di meja kayu tersebut. Yah, tak apalah saya mencoba
mengetik di meja ini, meski tak ada sumber listrik yang bisa menolong komputer
saya bertahan hidup cukup panjang untuk menemani saya menikmati udara terbuka
pergantian musim dari dingin ke semi. Baterai komputer ini kalau tidak salah
paling lama hanya bisa bertahan sampai setengah jam. Tapi tak mengapalah.
Daripada tidak melakukan sama sekali.
Mulailah saya
membuka komputer dan menyalakannya. Namun sayang, cahaya matahari yang lantaran
luar biasa terangnya itu, digelari anak-anak di rumah sebagai ’lampu Tuhan’, ternyata
membuat tampilan layar monitor saya menjadi sangat gelap. Selain tentunya
karena minimnya suplai listrik dari baterai yang sudah hampir sekarat. Saya
biarkan komputer yang bertahun-tahun mengabdi pada saya itu untuk terus berproses,
menyempurnakan tugasnya bersiap diri untuk dipakai.
Hanya sampai satu
paragraf saya sempat mengetik, hingga akhirnya saya menyerah untuk berlama-lama
di meja itu. Mata saya mulai sakit, dipaksa konsentrasi menangkap tampilan
layar monitor yang gelap. Selain
itu, lampu raksasa di langit semakin tinggi saja, semakin menaikkan pula suhu
udara. Meski menurut penanggalan iklim setempat hari ini masih terhitung musim
dingin, namun karena saya memakai pakaian yang juga saya sesuaikan dengan
musimnya, dan sudah terbiasa dengan suhu di bawah sepuluh derajat, tetap saja
suhu udara siang ini yang diperkirakan akan mencapai maksimal 14 derajat,
terasa gerah. Akhirnya saya kembali mengemasi barang-barang dan kembali masuk
ke dalam gedung. Kalau memang mau bekerja pakai komputer mengandalkan baterai,
cukuplah satu kursi tanpa meja di dalam gedung, mungkin tidak seterang di luar.
Iseng-iseng, saya
cek lagi kartu peminjaman meja khusus untuk pemakaian komputer. Ternyata, kotak
tempat penyimpanan kartu izin memakai meja khusus yang tadinya kosong itu,
sekarang menyediakan satu kartu. Itu berarti ada satu meja yang sedang
menganggur. Segera saja saya ambil kartu itu, sambil bertanya kepada petugas,
apakah saya boleh memakainya. Petugas yang sepertinya sudah tujuh puluhan tahun
ke atas itu menganggukkan kepalanya, sambil mengeluarkan kata-kata sopan mempersilakan
saya memakainya.
Masalah kemudian
timbul karena saya tidak tahu lokasi meja yang bersesuaian dengan kartu
tersebut. Pada mulanya saya kembali mengelilingi ruang belajar, yang rasanya
tetap tak berkurang kepadatannya. Orang-orang kulit kuning bermata sipit kembali terusik konsentrasinya
karena saya berlalu-lalang. Saya bisa merasakan kepala-kepala yang spontan
menengok ke arah saya, mata-mata yang tadinya mengarah ke buku jadi terarah ke
saya. Mungkin karena penampilan yang betul-betul menunjukkan bahwa saya orang
asing : kepala dibungkus kain. Tak mengapalah. Saya terus saja berjalan celingak-celinguk
tak mengabaikan tatapan mereka. Tetapi, setelah mengitari semua meja khusus
untuk pemakaian komputer, saya tetap tak menemukan nomor yang bersesuaian. Saya
kembali ke bagian resepsionis. Mungkin saya salah melihat denah meja saat
mengambil kartu tadi. Tapi yang terpajang di sana tetap saja membingungkan bagi
saya. Sebenarnya ingin bertanya pada petugas yang sudah kakek-kakek tadi itu,
tetapi kemudian saya urungkan niat tersebut karena rasa malu. Banyak sekali
orang yang minta dilayani di meja resepsionis tersebut, dari yang mengembalikan
dan meminjam buku, sampai yang bertanya soal penggantian nomor rahasia keanggotaan
di internet.
Saya memutuskan kembali
mencari, tak peduli dilihat orang-orang yang rajin belajar itu. Bayangan saya
bahwa meja khusus untuk pemakaian komputer itu selalu berupa pojokan yang hanya
cukup untuk satu orang saja dan bersekat, ternyata jadi penyebab kenapa tadi
saya tak berhasil menemukan meja saya. Saya akhirnya tahu bahwa tidak semua
meja seperti itu khusus untuk satu orang saja, berupa meja kecil, satu kursi, dan
bersekat. Meja yang bersesuaian dengan nomor kartu saya itu berukuran kira-kira
dua kali dua setengah meter dengan empat kursi di kedua sisinya. Tiga di antaranya berpenghuni. Masih pada
jarak sekitar empat meteran, saya sudah bisa yakin bahwa kursi yang kosong
itulah kursi saya. Dan betul
saja, di sudutnya tertempel nomor yang sama dengan nomor di kartu saya.
Pencarian ”space”
yang melelahkan sejak sekitar satu jam yang lalu akhirnya bermuara di sini.
Saya merasa cukup beruntung bisa mendapatkan tempat di siang hari begini.
Setelah saya duduk, bergantianlah pendatang baru mengikuti gaya saya tadi :
celingak-celinguk mengharapkan keberuntungan. Semakin siang semakin banyak saja
yang datang, tak sedikit yang akhirnya menyerah karena tak ada lagi tempat yang
tersisa.
Ketika jam
menunjukkan pukul dua belas siang, kebiasaan teratur orang Jepang untuk pergi
makan siang mulai terlihat. Sebagian besar kursi ditinggalkan penduduknya
tetapi barang-barang belajar mereka tetap dibiarkan begitu saja di atas meja.
Tempat pensil dibiarkan terbuka, kalkulator tergeletak, juga jam tangan. Mereka
merasa aman saja meninggalkan barang-barang seperti itu di tempat yang siapa
saja bisa mengambilnya secepat kilat. Pemandangan yang menggambarkan tingkat
kepercayaan masyarakat satu sama lain yang cukup tinggi. |