Karangan Bebas
Pertemuan Itu
| Pertemuan Itu |
|
|
| ditulis oleh Mochamad Asri | |
| 23/11/2007 | |
|
Saat ini, liburan musim panas sedang
menghampiri semua mahasiswa yang belajar di Jepang, tak terkecuali aku. Liburan
musim panas memang cukup panjang, sekitar 2 bulan. Biasanya, para mahasiswa
asing di Jepang memanfaatkan waktu liburan ini untuk berlibur ke tanah air
masing-masing, melepas rindu dengan keluarga tercinta. Ini adalah pulang
pertamaku sejak hampir satu setengah tahun menetap di negeri sakura ini.
Bagiku, mendapat kesempatan menimba ilmu di
negeri sakura, yang terkenal dengan ilmu pengetahuan dan teknologinya, adalah
karunia yang luar biasa dari Allah. Aku bukanlah siapa-siapa. Aku hanyalah anak
dari sepasang insan manusia biasa, yang hidup dalam kesederhanaan. Ayahku
adalah putra dari tanah rencong, sedangkan ibuku adalah wanita keturunan Sunda
yang sudah lama menetap di
Mengingat kembali masa kecilku dulu adalah hal
yang paling aku sukai. Karena pada masa itulah kebahagiaan terpancar layaknya
sinar kunang-kunang yang menjadi pelita di malam hari, canda dan tawa seakan
begitu mudah tercipta tanpa ada beban, rintangan, dan rasa khawatir yang aku
rasakan. Boleh dibilang masa itu merupakan masa yang paling menyenangkan.
Keluarga kami hidup bahagia dan berkecukupan tanpa melupakan prinsip-prinsip
kesederhanaan. Ayah bekerja sebagai pegawai negeri di salah satu departemen
pemerintah di kawasan
Akan tetapi, cahaya kebahagian itu mulai sirna perlahan-lahan oleh cobaan
yang menimpa keluarga kami. Dimulai pada tahun 1996, ketika krisis ekonomi
global menimpa bangsa
Sejak ayah meninggal, keluarga kami hidup dalam ketidakpastian. Ibu
menjadi lebih banyak melamun kosong, karena beliau tidak tahu lagi bagaimana
cara mencari uang untuk membiayai biaya hidup aku dan kakakku. Semua harta yang
ibu punya, ibu jual dengan ikhlas, semata-mata agar aku dan kakakku bisa
meneruskan pendidikan. Pernah di suatu malam ibu berkata,”Nak, Semua harta ibu
dan peninggalan ayahmu sudah habis terjual. Ibu tidak tahu lagi bagaimana cara
membiayai kamu dan kakakmu di masa depan. Tapi, hanya satu pinta ibu padamu
nak. Belajarlahlah yang giat, carilah ilmu setinggi-tingginya karena dengan
ilmu itulah kamu bisa membuat ibu bangga kepadamu. Bahkan jika ibu harus
mengemis sekalipun untuk biaya sekolahmu, ibu rela nak.” Tak kuat hatiku
mendengar kata-kata penuh pengorbanan itu. Selama ini ibu selalu melamun kosong
karena memikirkan kehidupanku. Sedangkan aku, tak pernah sekalipun terpintas
dalam pikiranku bagaimana membalas jasanya yang mulia itu. Yang aku lakukan
hanya bermain-main tanpa peduli pada pada keadaan ibu .Aku malu kepada diriku
sendiri.
Tanpa kusadari, linangan air mata mulai membasahi pipiku. Air mata bentuk
kekecewaanku terhadap diri ini, yang belum mampu menjadi seorang anak yang bisa
membahagiakan orang tuanya. Bahkan tidak jarang anak itu berani membangkang dan
menentang sang ibu dengan nada yang tinggi dan suara yang lantang. Maafkan aku
ya Allah. Aku belum mampu membahagiakan ibuku. Kupeluk ibu dengan penuh rasa
kasih sayang. Rasa yang dibungkus tebal oleh tekad seorang anak yang ingin
membahagiakan orang tuanya. Kami berdua larut dalam tangis. Kubisikkan kata ke
telinga ibuku, ” Bu, Aku janji tidak akan mengecewakan ibu di sisa umurku ini.
Tidak ada kebahagiaan terbesar di dunia ini selain aku bisa membahagiakan ibu.
Doakan anakmu ini bu.” Janji yang telah kutanam dalam-dalam di sanubariku
hingga saat ini di usiaku yang menginjak 19 tahun.
Saat itu, aku menyadari bahwa aku tidak akan
mampu melanjutkan pendidikanku di perguruan tinggi kecuali ada yang mau
menanggung biayanya. Karena dengan kondisi ekonomi keluarga kami, membayar uang
kuliah yang sangat mahal itu adalah sesuatu yang sangat tidak mungkin. Sejak
saat itu aku bertekad, aku harus mampu melanjutkan kuliahku tanpa harus
membebani ibuku. Cara satu-satunya adalah dengan berjuang mendapatkan beasiswa.
Aku belajar dengan giat agar aku bisa mendapatkan beasiswa. Waktu luang yang
biasanya aku habiskan dengan hobiku bermain sepakbola pun rela kukorbankan demi
mengulang kembali pelajaran-pelajaran di sekolah. Bersakit-sakit dahulu,
bersenang-senang kemudian, itulah peribahasa tepat yang bisa menggambarkan
kondisiku saat itu. Inallaha sami’un alim. Akhirnya, Allah mendengar pintaku.
Aku dinyatakan lulus oleh pemerintah jepang untuk mendapatkan beasiswa S-1 di
Jepang tanpa harus membayar uang sepeser pun. Aku pun segera memberi tahu ibu
tentang hal ini. Dan ibupun menangis sedih bercampur gembira sambil memelukku
dan berkata, “Ibu bangga kepadamu, Nak.” Sungguh, kata terindah yang pernah
kudengar dari mulut ibundaku. Sangat mengharukan.
*****
“Sri, jangan melamun terus. Ayo makan dulu.
Itu nasinya sudah matang.”, kata Angga, membuyarkan semua lamunanku. “Iya-iya.
Makasih banyak Ngga. Aku cuma lagi sedikit sedih dan terharu saja. Soalnya lusa
kita akan kembali lagi ke
Aku mengangguk dan bangkit dari lamunanku. Aku
bergegas menuju dapur untuk mengambil piring dan menyantap makanan yang sudah
dihidangkan oleh Angga, sekedar mengisi perutku yang kosong ini.
Hari itu, 1 hari sebelum hari kepulanganku ke
Kubuka pintu luar asramaku dan aku melangkah
ke arah stasiun. Jarak antara asramaku dengan stasiun kereta api adalah sekitar
200 meter, memakan waktu 4 menit jika berjalan kaki. Setibanya di stasiun aku
segera membeli tiket jurusan kyobashi, daerah tempat aku bekerja
sambilan. Kereta datang di platform 2. Aku masuk perlahan-lahan ke sisi
dalam kereta. Beberapa saat kemudian, pintu kereta menutup secara otomatis.
Kereta yang berteknologi tinggi, pikirku. Aku menuju ke tempat duduk kosong
yang berada di sebelah kananku. Hari itu tidak banyak orang karena hari Sabtu.
Kondisi yang sangat berbeda dengan hari kerja. Pada hari kerja, jangan harap
bisa duduk dalam kereta. Bisa bernafas lancar di dalam kereta yang penuh sesak
dengan orang jepang saja sudah beruntung.
*****
Hari ini, diluar dugaan pekerjaan selesai
sangat cepat. Aku sudah bisa pulang ke rumah pada pukul 6 sore, setelah bekerja
selama 9 jam penuh. Badanku letih, hal yang sudah umum terjadi setelah kerja
sambilan. Setelah sesampainya di rumah, aku oleskan balsam penghilang rasa
pegal pemberian ibuku. Tak banyak yang dapat kulakukan pada hari itu. Aku
sangat lelah. Aku sengaja tidur lebih cepat agar pada esok hari bisa kembali
bugar. Ya, besok merupakan hari penting bagiku. Hari dimana aku bisa bertemu
kembali dengan ibuku. Aku tidak mau ketinggalan pesawat hanya karena aku bangun
kesiangan akibat kelelahan hari ini. Tunggu aku Wahai Umi,,
*****
Akhrinya hari yang dinanti-nanti pun datang.
Aku dan Angga sengaja bangun lebih awal karena kami harus naik kereta yang
berangkat pukul 6 pagi. Semangkok mie instant dan sebuah onigiri
menemani sarapan kami. Ya, untuk para bujang yang belum beristri seperti kami
ini, supermi dan onigiri memang makanan yang paling praktis dan siap
saji, makanan yang tidak membutuhkan kemampuan memasak sedikitpun.
Setelah segalanya siap, kami mengecek ulang segala dokumen dan barang yang
diperlukan untuk kepulangan kami ke
Waktu menunjukkan pukul 06.10. Pagi itu kereta sangat lengang. Hal yang
sangat wajar pikirku. Karena segala aktifitas di Jepang, baik itu perkantoran,
pendidikan ataupun aktifitas lainnya, baru dimulai pada pukul 09.00. Kondisi
yang sangat berbeda dengan
Kereta yang mengantar kami melaju dengan sangat cepat. Kereta ini disebut
dengan kyukou densha atau yang dalam bahasa inggrisnya lebih dikenal
dengan express train. Kereta ini berbeda dengan kereta biasa, karena
kereta ini hanya berhenti pada stasiun tertentu saja. Hal ini membuat waktu
tempuhnya menjadi lebih sedikit, dengan kata lain perjalanan kita bisa menjadi
lebih cepat.
Di dalam kereta, aku dan Angga berbincang-bincang kecil, mengenang kembali
apa saja yang sudah kami lakukan selama satu tahun di Jepang ini. Menarik
memang. Banyak pengalaman yang aku dapat dari hasil perantauanku selama satu
tahun ini. Misalnya saja harus menyiapkan makanan buatan sendiri, yang walau
sehambar apapun rasanya harus aku makan, karena biayanya jauh lebih murah jika
dibandingkan dengan membeli makanan jadi di toko-toko.
Tapi, justru dari sanalah aku bisa belajar
betapa besarnya jasa ibuku. Ibu, dengan segala kelembutan dan keikhlasannya,
rela mengorbankan waktu tidurnya untuk bangun lebih awal hanya untuk menyiapkan
bekal yang akan aku bawa waktu SMA dulu. Bekal yang sangat lezat yang dibungkus
dengan rasa kasih sayang seorang ibu terhadap anaknya. Tapi, aku masih sering
saja mengeluh, bahkan terkadang aku melecehkan bekal yang ibu siapkan hanya
karena kurang garam atau hal-hal kecil lainnya. Tak jarang aku melukai hati
ibuku dengan perkataanku yang menyanyat hatinya. Tapi ibu tetap sabar walaupun
anaknya sering membuatnya bersedih. Maafkan aku ibu. Betapa nistanya aku ini.
Sekarang, setelah tinggal jauh darimu, baru aku sadari betapa besar jasamu
padaku, jasa yang mungkin tidak akan aku bisa balas sampai akhir hayatku. Ya Allah,
sungguh hati ini rindu ingin bertemu ibunda ,sampaikan salam rindu ini
kepadanya ya Rabb .
Kereta baja itu akhirnya mengakhiri langkahnya
di Narita Airport, bandar udara internasional yang paling megah dan
modern seantero Jepang. Tak terasa sudah hampir 2 jam kami duduk di kereta.
Kami bergegas menuju pintu masuk bandara. Sesampainya di bandara, aku langsung
beranjak menuju loket pelayanan check-in. Setelah menunjukkan
paspor dan tiket, aku diizinkan memasuki ruang tunggu keberangkatan pesawat. Di
Akhirnya, setelah kurang lebih 45 menit menunggu, para penumpang
diperbolehkan untuk masuk ke dalam badan pesawat. Kurasakan betapa sejuknya
udara dalam pesawat. Aku masuk perlahan-lahan ke dalam pesawat sambil mencari
nomor tempat duduk yang tertera di tiketku, yaitu nomor 63 A. Kutemukan letak
tempat duduk itu. Aku masukkan barang-barang bawaan ke kabin tepat diatas
tempat dudukku. Lalu, aku duduk tenang sambil sesekali melihat pemandangan luar
melalui jendela pesawat. Kudengar suara pilot yang mengingatkan para penumpang
agar tidak lupa memasang sabuk pengaman karena pesawat akan terbang sesaat
lagi. Kukencangkan sabuk pengamanku, setidaknya bisa membuatku nyaman terhadap
goncangan2 yang mungkin terjadi.
Sesaat kemudian, burung baja itu terbang membelah birunya langit yang
cerah. Tidak banyak yang dapat kulakukan di dalam pesawat selain melihat
pemandangan langit yang monoton atau tidur. Sesekali bayangan ibu menghampiri
lamunanku. Ibu yang telah lama tak kulihat parasnya. Ibu yang telah lama tak
kulihat senyum manisnya. Ibu yang amat aku rindukan. Ibu yang jasanya tidak
akan bisa kubalas walaupun dengan seluruh sisa umurku. Tidak terasa, Ku
terlelap dalam rinduku yang sangat mendalam kepada sang ibunda.
*****
“Sir, Would you like some drinks?”
tanya seorang pramugari. Suara pramugari itu membangunkan diriku dari tidur
lelapku. Dengan setengah sadar aku menjawab,” Yes, orange juice please.”,
sahutku kepada pramugari itu. Aku mengambil jus jeruk yang disediakan oleh
pramugari itu. Tidak lupa aku ucapkan terima kasih kepadanya. Kuteguk jus jeruk
itu. Nikmat rasanya, membasahi tenggorokanku yang kering dengan jus yang cukup
dingin itu.
Tak terasa, langit sudah berubah menjadi gelap
gulita. Tidak terlihat lagi cahaya matahari sediktpun. Kulihat jam tangan
peninggalan ayahku yang membalut lenganku. Pukul 21.30 waktu jepang. Berarti
sekarang sudah pukul 19.30 WIB, karena Jepang dan
Setelah pesawat mendarat dengan selamat, kami
diperbolehkan keluar dari pesawat menuju Bandara Soekarno-Hatta. Senang sekali
rasanya hatiku ketika mendengar suara seorang ibu yang sedang memarahi anaknya.
Bukan aku senang karena anaknya dimarahi, tapi aku senang bisa kembali
mendengar percakapan-percakapan dalam Bahasa Indonesia yang hampir 1 tahun
lebih jarang aku dengar.
Kami melanjutkan langkah kami ke bagian
imigrasi. Disana, kami diminta untuk memperlihatkan paspor kami oleh para
petugas. Setelah mendapat cap resmi dari petugas imigrasi, kami diperbolehkan
menuju tempat selanjutnya yaitu tempat pengambilan bagasi. Tak butuh waktu lama
bagiku untuk mengambil bagasiku dari tumpukan bagasi para penumpang. Setelah
semua administrasi selesai, akhirnya aku beranjak keluar bandara untuk segera
melepas rindu yang tak tertahankan ini. rindu yang terus kupendam selama satu
tahun lebih.
Aku beranjak keluar, kulihat kerumunan orang
yang penuh sesak. Dari mulai supir taksi yang menawarkan tumpangan, petugas
hotel yang berteriak-teriak menyebutkan nama hotelnya, para penjemput yang
berdesakkan, semua bercampur menutup sesak pintu terminal D yang cukup luas
itu. Aku mencoba mengenali ratusan wajah para penjemput, mencoba mencari ibuku
ataupun sanak keluargaku. Kulihat wajah Angga yang sangat berseri, karena telah
bertemu dengan orang tua dan sanak keluarga. Aku pun ikut senang. Angga dan
keluarganya mohon pamit pulang duluan, karena sudah ditunggu oleh keluarga
besar di rumah. Tawa dan canda pun terus terdengar dari kerumunan para
penjemput karena sudah berhasil menemukan sanak keluarganya. Sedih rasanya hati
ini, disaat orang lain sudah bisa melepas rindu kepada orang yang disayanginya.
aku masih terus kebingugan mencari dimana sanak saudaraku. Aku menasehati
diriku sendiri,”Sabar ya, mungkin ibu dan saudara yang lain masih dalam
perjalanan terjebak macet”.
Dua puluh menit berlalu, tapi aku masih belum
bisa menemukan ibuku atau sanak saudaraku yang lain. Aku terus mencari. Keadaan
sekitar sudah semakin sepi. Sebagian penumpang sudah dijemput oleh sanak
saudara mereka masing-masing. Aku masih larut dalam kesepian. Tak tahan rasanya
hati ini ingin segera bertemu ibunda tercinta. Ibunda yang tak akan ada duanya
di dunia ini.
Aku memutuskan duduk di kursi tunggu. Aku melemaskan dan meregangkan
otot-ototku yang mulai terasa pegal karena lamanya perjalanan. Sesekali aku
melihat para petugas bandara yang duduk malas-malasan sambil menghisap rokok,
hal yang sangat aku benci. Aku tidak tahu mengapa orang merokok, padahal jelas
sekali bahwa rokok itu merusak kesehatan. Tidak ada gunanya. Aku membayangkan,
jika seorang per hari menghabiskan satu bungkus rokok dengan biaya Rp5.000,
berarti dalam satu bulan dia membelanjakan sekitar Rp 150.000 hanya untuk
rokok. Itu artinya, dalam setahun ia menghabiskan hampir Rp 2.000.000 untuk
membeli rokok. Dengan kata lain, seorang perokok membakar sia-sia uangya
sebanyak Rp2.000.000 per tahun, jumlah yang cukup besar bila disumbangkan ke
fakir miskin.
Di tengah lamunanku tentang bahaya rokok, aku mendengar suara teriakan
wanita yang memanggil namaku dari arah belakang. Suara itu sangat tidak asing
bagiku, suara yang sangat aku kenal. Suara yang menemaniku tidur di waktu aku kecil
dulu. Suara yang membacakan aku cerita sebelum tidur di waktu aku kecil dulu.
Suara yang mengajarkan aku membaca Al-Qur`an di waktu maghrib dan subuh. Suara
lembut yang sudah sangat lama aku tunggu.
Aku menoleh ke belakang. Betapa bergerumuhnya hati ini. Hati ini tidak
bisa lagi menahan rasa haru yang begitu besar, begitu dalam. Wanita itu
adalah ibuku. Ibu yang sangat aku rindukan kehadirannya di antara semua
kumpulan manusia yang ada saat itu. Aku berlari ke arah ibu. Aku peluk ibuku
dengan erat dan penuh cinta, pelukan yang tidak akan bisa dipisahkan oleh
siapapun. Kurasakan air mataku yang mulai deras mengalir karena rinduku yang
sangat dalam. Kupeluk erat-erat ibuku. Tak henti-henti, aku ciumi kening dan
pipinya, sebagai lukisan tanda sayang dan cintaku kepadanya. Aku pandangi
wajahnya. Mulai tampak helaian-helaian rambut berwarna putih di kepalanya yang
tidak aku jumpai saat aku berangkat dulu, helaian rambut putih yang menandakan
betapa beratnya perjuangan seorang ibu dalam menjalani bahtera kehidupan. Ombak
kesedihan yang begitu besar seaakan menimpaku, tatkala aku melihat kerut
wajahnya yang semakin bertambah, seakan berkata,”Ibu sudah tidak muda lagi. Ibu
sudah tidak sekuat dulu lagi. Maafkan ibu ya nak.”. Air mata semakin
deras menghujani pipiku. Aku tak kuasa melihat kondisi ibuku saat ini. Kondisi
yang menggambarkan bagaimana perihnya, letihnya, beratnya perjuangan seorang
ibu dalam mengarungi kehidupan tanpa ada lagi ayah di sisinya.
Kulihat senyum tulus seorang ibu di tengah-tengah air mata yang
mengisaratkan kesedihan di wajahnya. Sangat manis senyumnya, senyum sayang
seorang ibu kepada anaknya. Senyum itu sangat menyejukkan hatiku yang sangat
merindukan untaian kasih sayangnya. Bagai sebuah mata air yang menyejukkan
tenggorokan di
Amin
Teruntuk ibundaku yang amat kucintai...
Mochamad Asri |