Beranda arrow Karangan Bebas arrow Pertemuan Itu
semi color panas color gugur color dingin color
 
 
Pertemuan Itu Print E-mail
ditulis oleh Mochamad Asri   
23/11/2007

airpot "Jangan lupa paspor dan tiketnya Sri.”, sahut Angga, teman satu apatoku, kepadaku. Kuambil paspor dan tiket pesawat dari meja, lalu kumasukkan di sela-sela kantong jasku, agar mudah mengambilnya pada saat proses check- in di bandara nanti.


Ya, Akhir-akhir ini aku memang disibukkan dengan berbagai macam persiapan barang, cindera mata dan keperluan lainnya yang aku perlukan untuk pulang sejenak, melepas rindu dengan keluargaku tercinta di Indonesia, setelah kurang lebih satu setengah tahun menetap di Jepang. Hal yang tak pernah terbesit dalam pikiranku sebelumnya

Saat ini, liburan musim panas sedang menghampiri semua mahasiswa yang belajar di Jepang, tak terkecuali aku. Liburan musim panas memang cukup panjang, sekitar 2 bulan. Biasanya, para mahasiswa asing di Jepang memanfaatkan waktu liburan ini untuk berlibur ke tanah air masing-masing, melepas rindu dengan keluarga tercinta. Ini adalah pulang pertamaku sejak hampir satu setengah tahun menetap di negeri sakura ini.

Bagiku, mendapat kesempatan menimba ilmu di negeri sakura, yang terkenal dengan ilmu pengetahuan dan teknologinya, adalah karunia yang luar biasa dari Allah. Aku bukanlah siapa-siapa. Aku hanyalah anak dari sepasang insan manusia biasa, yang hidup dalam kesederhanaan. Ayahku adalah putra dari tanah rencong, sedangkan ibuku adalah wanita keturunan Sunda yang sudah lama menetap di Jakarta. Aku bukanlah seorang jenius yang dapat melakukan perhitungan matematika rumit dengan waktu yang singkat dan jawaban yang tepat. Aku juga bukan peraih NEM teritinggi satu provinsi, kecamatan, atau bahkan sekolah sekalipun. Aku juga tidak mempunyai pengalaman mewakili Indonesia dalam ajang Olimpiade Sains Internasional seperti yang dilakukan oleh banyak temanku. Tapi berkat izin dari Allah, aku berhasil masuk dalam 10 orang beruntung yang dipilih oleh pemerintah Jepang untuk meneruskan pendidikan S-1 di Jepang dengan beasiswa penuh. Sebuah karunia Allah, yang didalamnya terdapat banyak tanggung jawab yang harus aku tunaikan.

Mengingat kembali masa kecilku dulu adalah hal yang paling aku sukai. Karena pada masa itulah kebahagiaan terpancar layaknya sinar kunang-kunang yang menjadi pelita di malam hari, canda dan tawa seakan begitu mudah tercipta tanpa ada beban, rintangan, dan rasa khawatir yang aku rasakan. Boleh dibilang masa itu merupakan masa yang paling menyenangkan. Keluarga kami hidup bahagia dan berkecukupan tanpa melupakan prinsip-prinsip kesederhanaan. Ayah bekerja sebagai pegawai negeri di salah satu departemen pemerintah di kawasan Jakarta selatan, sedangkan ibu bekerja di bank swasta di bilangan Kalimalang, Jakarta timur. Aku sangat bersyukur, karena ayah dan ibu membiayai hidup kami dengan berkecukupan tanpa harus meminjam uang kepada sanak saudara ataupun orang lain. Bahkan sesekali, ayah masih bisa menyisihkan sebagian uangnya untuk membeli barang mainan yang aku minta seperti lego atau mobil-mobilan. 

Akan tetapi, cahaya kebahagian itu mulai sirna perlahan-lahan oleh cobaan yang menimpa keluarga kami. Dimulai pada tahun 1996, ketika krisis ekonomi global  menimpa bangsa Indonesia. Pada saat itu ibu diberhentikan dari pekerjaannya. Empat tahun kemudian, atau tahun  2000, di saat umurku masih 13 tahun, ayah meninggalkan kami selama-lamanya karena sakit diabetes. Sangat sedih bila teringat akan kejadian itu. Kami telah kehilangan satu sosok pemimpin yang tak kenal lelah dan pantang menyerah dalam keluarga, panutan seluruh anggota keluarga.

Sejak ayah meninggal, keluarga kami hidup dalam ketidakpastian. Ibu menjadi lebih banyak melamun kosong, karena beliau tidak tahu lagi bagaimana cara mencari uang untuk membiayai biaya hidup aku dan kakakku. Semua harta yang ibu punya, ibu jual dengan ikhlas, semata-mata agar aku dan kakakku bisa meneruskan pendidikan. Pernah di suatu malam ibu berkata,”Nak, Semua harta ibu dan peninggalan ayahmu sudah habis terjual. Ibu tidak tahu lagi bagaimana cara membiayai kamu dan kakakmu di masa depan. Tapi, hanya satu pinta ibu padamu nak. Belajarlahlah yang giat, carilah ilmu setinggi-tingginya karena dengan ilmu itulah kamu bisa membuat ibu bangga kepadamu. Bahkan jika ibu harus mengemis sekalipun untuk biaya sekolahmu, ibu rela nak.” Tak kuat hatiku mendengar kata-kata penuh pengorbanan itu. Selama ini ibu selalu melamun kosong karena memikirkan kehidupanku. Sedangkan aku, tak pernah sekalipun terpintas dalam pikiranku bagaimana membalas jasanya yang mulia itu. Yang aku lakukan hanya bermain-main tanpa peduli pada pada keadaan ibu .Aku malu kepada diriku sendiri.

Tanpa kusadari, linangan air mata mulai membasahi pipiku. Air mata bentuk kekecewaanku terhadap diri ini, yang belum mampu menjadi seorang anak yang bisa membahagiakan orang tuanya. Bahkan tidak jarang anak itu berani membangkang dan menentang sang ibu dengan nada yang tinggi dan suara yang lantang. Maafkan aku ya Allah. Aku belum mampu membahagiakan ibuku. Kupeluk ibu dengan penuh rasa kasih sayang. Rasa yang dibungkus tebal oleh tekad seorang anak yang ingin membahagiakan orang tuanya. Kami berdua larut dalam tangis. Kubisikkan kata ke telinga ibuku, ” Bu, Aku janji tidak akan mengecewakan ibu di sisa umurku ini. Tidak ada kebahagiaan terbesar di dunia ini selain aku bisa membahagiakan ibu. Doakan anakmu ini bu.” Janji yang telah kutanam dalam-dalam di sanubariku hingga saat ini di usiaku yang menginjak 19 tahun.

Saat itu, aku menyadari bahwa aku tidak akan mampu melanjutkan pendidikanku di perguruan tinggi kecuali ada yang mau menanggung biayanya. Karena dengan kondisi ekonomi keluarga kami, membayar uang kuliah yang sangat mahal itu adalah sesuatu yang sangat tidak mungkin. Sejak saat itu aku bertekad, aku harus mampu melanjutkan kuliahku tanpa harus membebani ibuku. Cara satu-satunya adalah dengan berjuang mendapatkan beasiswa. Aku belajar dengan giat agar aku bisa mendapatkan beasiswa. Waktu luang yang biasanya aku habiskan dengan hobiku bermain sepakbola pun rela kukorbankan demi mengulang kembali pelajaran-pelajaran di sekolah. Bersakit-sakit dahulu, bersenang-senang kemudian, itulah peribahasa tepat yang bisa menggambarkan kondisiku saat itu. Inallaha sami’un alim. Akhirnya, Allah mendengar pintaku. Aku dinyatakan lulus oleh pemerintah jepang untuk mendapatkan beasiswa S-1 di Jepang tanpa harus membayar uang sepeser pun. Aku pun segera memberi tahu ibu tentang hal ini. Dan ibupun menangis sedih bercampur gembira sambil memelukku dan berkata, “Ibu bangga kepadamu, Nak.” Sungguh, kata terindah yang pernah kudengar dari mulut ibundaku. Sangat mengharukan.

 

*****

 

“Sri, jangan melamun terus. Ayo makan dulu. Itu nasinya sudah matang.”, kata Angga, membuyarkan semua lamunanku. “Iya-iya. Makasih banyak Ngga. Aku cuma lagi sedikit sedih dan terharu saja. Soalnya lusa kita akan kembali lagi ke Indonesia. Aku sudah kangen banget sama ibuku, Ngga.” balasku kepada Angga.  “Yo wess, jangan dipikirin terus, nanti kamu malah sakit dan gak jadi pulang. Udah, makan dulu sana.”, tegas Angga.

Aku mengangguk dan bangkit dari lamunanku. Aku bergegas menuju dapur untuk mengambil piring dan menyantap makanan yang sudah dihidangkan oleh Angga, sekedar mengisi perutku yang kosong ini. Ada benarnya juga apa yang dikatakan Angga. Ibu tidak minta apapun. Ibu juga tidak mengharuskan aku membawa oleh-oleh yang harganya mahal dari Jepang. Karena kebahagiaan terbesar dari seorang ibu pasti adalah bisa melihat anaknya yang merantau di negeri seberang bisa pulang kembali dengan raga yang sehat, wajah yang ceria dan hati yang gembira. Betapa sangat kunantikan saat itu. Ya Ummi, tunggulah aku di sana.

Hari itu, 1 hari sebelum hari kepulanganku ke Indonesia, sengaja aku bangun lebih awal. Karena pada hari itu, aku mendapat giliran baito di sebuah perusahaan jasa angkut barang di negeri sakura. Aku bergegas mandi dan sarapan pagi. Kukenakan pakaian yang agak lusuh tapi nyaman dipakai agar mudah bergerak dan mengangkat barang. Setelah siap semua, aku bergegas pergi. Kulihat Angga masih tertidur lelap. Sengaja aku tidak bangunkan, karena khawatir mengganggu tidurnya.

Kubuka pintu luar asramaku dan aku melangkah ke arah stasiun. Jarak antara asramaku dengan stasiun kereta api adalah sekitar 200 meter, memakan waktu 4 menit jika berjalan kaki. Setibanya di stasiun aku segera membeli tiket jurusan kyobashi, daerah tempat aku bekerja sambilan. Kereta datang di platform 2. Aku masuk perlahan-lahan ke sisi dalam kereta. Beberapa saat kemudian, pintu kereta menutup secara otomatis. Kereta yang berteknologi tinggi, pikirku. Aku menuju ke tempat duduk kosong yang berada di sebelah kananku. Hari itu tidak banyak orang karena hari Sabtu. Kondisi yang sangat berbeda dengan hari kerja. Pada hari kerja, jangan harap bisa duduk dalam kereta. Bisa bernafas lancar di dalam kereta yang penuh sesak dengan orang jepang saja sudah beruntung.


Dalam perjalanan aku kembali termenung. Kadang-kadang aku berpikir kalau aku adalah seorang mahasiswa yang boleh dibilang hanya mempunyai modal nekat dalam segala hal. Tak pernah terlintas dalam kepalaku bahwa aku akan belajar sambil baito atau yang lebih dikenal dengan part-time worker. Memang dengan bekerja sambilan kita bisa mendapatkan imbalan yang cukup besar, sebesar 1000 yen/jam atau sekitar Rp75.000/jam
 
Tapi kalau boleh jujur, sebenarnya aku lebih suka melakukan eksperimen di laboratorium atau membaca buku di perpustakaan ketimbang harus bekerja sambilan. Belajar di perpustakaan atau melakukan percobaan di laboratorium adalah hal yang sangat menyenangkan. Kita bisa mempelajari hal-hal baru yang kita tidak ketahui sebelumnya melalui berjuta-juta buku dan artikel ilmiah yang terdapat pada perpustakaan, sang gudang ilmu. Apalagi, perpustakaan universitasku ini termasuk perpustakaan idamanku. Jumlah bukunya sangat banyak dan jenisnya yang bervariasi, membuat kita akan betah di perpustakaan, menghabiskan waktu berjam-jam membaca buku untuk mengobati rasa keingintahuan kita terhadap suatu ilmu, keingintahuan yang ingin menghapuskan kebodohan yang ada dalam diri ini dan menggantinya dengan ilmu yang bermanfaat.  Belum lagi, fasilitas internet yang bisa diakses bebas di perpustakaan, ditambah dengan komputer kampusku yang terkenal dengan nama Tsubame, yang kecepatannya menempati posisi satu di Asia dan posisi 15 di dunia dan tercatat dalam Guiness Book of Record, membuat aku semakin betah di perpustakaan yang sudah seperti rumah kedua bagiku.


Aku sangat bersyukur kepada Allah karena bisa menikmati fasilitas yang begitu lengkap di Jepang ini tanpa harus membayar uang sepeser pun. “Andaikan teman-temanku di Indonesia juga bisa mendapatkan fasilitas yang sama seperti yang aku rasakan disini, pasti generasi muda Indonesia bisa menyamai pandainya generasi muda Jepang.”,gumamku.

Kalau bukan karena aku harus berbakti kepada ibuku, kalau bukan karena aku harus mencari uang tambahan untuk membiayai hidup ibu dan kakakku di Indonesia, aku tidak akan mau bersusah payah bekerja sambilan yang melelahkan ini, bahkan tidak jarang menyita waktu belajar dan waktu organisasiku. Yah, bagi para penerima beasiswa monbusho, seharusnya keuangan bukanlah suatu masalah. Karena mereka diberi tunjangan sebesar 135.000 yen per bulan. Bayangkan, cukup dengan bernafas saja, para penerima beasiswa diberi uang sekitar 75 yen per menit, atau setara dengan Rp6.000. Sungguh, betapa mahalnya tarif bernafas per menit dari para penerima beasiswa itu. Sebenarnya dengan jumlah uang itu, harusnya cukup untuk membiayai kehidupan selama satu bulan di Tokyo, kota termahal di dunia. Hanya saja, karena aku juga harus membiayai hidup ibu dan kakakku di Indonesia, aku harus mencari uang tambahan di luar uang beasiswa itu. Yah, setidaknya hingga saat ini, baru ini yang bisa kulakukan untuk membahagiakan ibuku.

Suara pengumuman dari sang masinis membuyarkan lamunanku. Tak terasa kereta itu sudah sampai di stasiun nihonbashi, satu stasiun sebelum kyobashi, daerah tempatku bekerja.

*****

Hari ini, diluar dugaan pekerjaan selesai sangat cepat. Aku sudah bisa pulang ke rumah pada pukul 6 sore, setelah bekerja selama 9 jam penuh. Badanku letih, hal yang sudah umum terjadi setelah kerja sambilan. Setelah sesampainya di rumah, aku oleskan balsam penghilang rasa pegal pemberian ibuku. Tak banyak yang dapat kulakukan pada hari itu. Aku sangat lelah. Aku sengaja tidur lebih cepat agar pada esok hari bisa kembali bugar. Ya, besok merupakan hari penting bagiku. Hari dimana aku bisa bertemu kembali dengan ibuku. Aku tidak mau ketinggalan pesawat hanya karena aku bangun kesiangan akibat kelelahan hari ini. Tunggu aku Wahai Umi,,

 

*****

Akhrinya hari yang dinanti-nanti pun datang. Aku dan Angga sengaja bangun lebih awal karena kami harus naik kereta yang berangkat pukul 6 pagi. Semangkok mie instant dan sebuah onigiri menemani sarapan kami. Ya, untuk para bujang yang belum beristri seperti kami ini, supermi dan onigiri memang makanan yang paling praktis dan siap saji, makanan yang tidak membutuhkan kemampuan memasak sedikitpun. 

Setelah segalanya siap, kami mengecek ulang segala dokumen dan barang yang diperlukan untuk kepulangan kami ke Indonesia seperti paspor, tiket dan lain-lain. Tidak lupa kami matikan listrik sentral di asrama kami yang akan kami tinggal selama 1 bulan lamanya. Setelah itu kami kunci rapat-rapat pintu depan asrama kami, dan kami pun berangkat menuju stasiun.

Waktu menunjukkan pukul 06.10. Pagi itu kereta sangat lengang. Hal yang sangat wajar pikirku. Karena segala aktifitas di Jepang, baik itu perkantoran, pendidikan ataupun aktifitas lainnya, baru dimulai pada pukul 09.00. Kondisi yang sangat berbeda dengan Indonesia. Aku teringat masa SMA dulu. Aku harus bangun sekitar jam 04.30 agar tidak terlambat berangkat ke sekolah yang memulai aktifitasnya pada pukul 07.00. Wuih, aku menghela nafas. Masa-masa yang sangat sulit tapi penuh kenangan manis yang takkan pernah terlupakan.

Kereta yang mengantar kami melaju dengan sangat cepat. Kereta ini disebut dengan kyukou densha atau yang dalam bahasa inggrisnya lebih dikenal dengan express train. Kereta ini berbeda dengan kereta biasa, karena kereta ini hanya berhenti pada stasiun tertentu saja. Hal ini membuat waktu tempuhnya menjadi lebih sedikit, dengan kata lain perjalanan kita bisa menjadi lebih cepat.

Di dalam kereta, aku dan Angga berbincang-bincang kecil, mengenang kembali apa saja yang sudah kami lakukan selama satu tahun di Jepang ini. Menarik memang. Banyak pengalaman yang aku dapat dari hasil perantauanku selama satu tahun ini. Misalnya saja harus menyiapkan makanan buatan sendiri, yang walau sehambar apapun rasanya harus aku makan, karena biayanya jauh lebih murah jika dibandingkan dengan membeli makanan jadi di toko-toko.

Tapi, justru dari sanalah aku bisa belajar betapa besarnya jasa ibuku. Ibu, dengan segala kelembutan dan keikhlasannya, rela mengorbankan waktu tidurnya untuk bangun lebih awal hanya untuk menyiapkan bekal yang akan aku bawa waktu SMA dulu. Bekal yang sangat lezat yang dibungkus dengan rasa kasih sayang seorang ibu terhadap anaknya. Tapi, aku masih sering saja mengeluh, bahkan terkadang aku melecehkan bekal yang ibu siapkan hanya karena kurang garam atau hal-hal kecil lainnya. Tak jarang aku melukai hati ibuku dengan perkataanku yang menyanyat hatinya. Tapi ibu tetap sabar walaupun anaknya sering membuatnya bersedih. Maafkan aku ibu. Betapa nistanya aku ini. Sekarang, setelah tinggal jauh darimu, baru aku sadari betapa besar jasamu padaku, jasa yang mungkin tidak akan aku bisa balas sampai akhir hayatku. Ya Allah, sungguh hati ini rindu ingin bertemu ibunda ,sampaikan salam rindu ini kepadanya ya Rabb .

Kereta baja itu akhirnya mengakhiri langkahnya di Narita Airport, bandar udara internasional yang paling megah dan modern seantero Jepang. Tak terasa sudah hampir 2 jam kami duduk di kereta. Kami bergegas menuju pintu masuk bandara. Sesampainya di bandara, aku langsung beranjak menuju loket pelayanan check-in.  Setelah menunjukkan paspor dan tiket, aku diizinkan memasuki ruang tunggu keberangkatan pesawat. Di sana, aku duduk sembari melihat-lihat keindahan pesawat-pesawat yang berada di Narita Airport.

Akhirnya, setelah kurang lebih 45 menit menunggu, para penumpang diperbolehkan untuk masuk ke dalam badan pesawat. Kurasakan betapa sejuknya udara dalam pesawat. Aku masuk perlahan-lahan ke dalam pesawat sambil mencari nomor tempat duduk yang tertera di tiketku, yaitu nomor 63 A. Kutemukan letak tempat duduk itu. Aku masukkan barang-barang bawaan ke kabin tepat diatas tempat dudukku. Lalu, aku duduk tenang sambil sesekali melihat pemandangan luar melalui jendela pesawat. Kudengar suara pilot yang mengingatkan para penumpang agar tidak lupa memasang sabuk pengaman karena pesawat akan terbang sesaat lagi. Kukencangkan sabuk pengamanku, setidaknya bisa membuatku nyaman terhadap goncangan2 yang mungkin terjadi.

Sesaat kemudian, burung baja itu terbang membelah birunya langit yang cerah. Tidak banyak yang dapat kulakukan di dalam pesawat selain melihat pemandangan langit yang monoton atau tidur. Sesekali bayangan ibu menghampiri lamunanku. Ibu yang telah lama tak kulihat parasnya. Ibu yang telah lama tak kulihat senyum manisnya. Ibu yang amat aku rindukan. Ibu yang jasanya tidak akan bisa kubalas walaupun dengan seluruh sisa umurku. Tidak terasa, Ku terlelap dalam rinduku yang sangat mendalam kepada sang ibunda.

*****

Sir, Would you like some drinks?” tanya seorang pramugari. Suara pramugari itu membangunkan diriku dari tidur lelapku. Dengan setengah sadar aku menjawab,” Yes, orange juice please.”, sahutku kepada pramugari itu. Aku mengambil jus jeruk yang disediakan oleh pramugari itu. Tidak lupa aku ucapkan terima kasih kepadanya. Kuteguk jus jeruk itu. Nikmat rasanya, membasahi tenggorokanku yang kering dengan jus yang cukup dingin itu.

Tak terasa, langit sudah berubah menjadi gelap gulita. Tidak terlihat lagi cahaya matahari sediktpun. Kulihat jam tangan peninggalan ayahku yang membalut lenganku. Pukul 21.30 waktu jepang. Berarti sekarang sudah pukul 19.30 WIB, karena Jepang dan Indonesia berselisih waktu kurang lebih 2 jam. Sudah hampir 7 jam lebih aku berada dalam pesawat, waktu tempuh normal yang dibutuhkan oleh pesawat untuk terbang dari Tokyo menuju Jakarta. Kudengar suara pilot yang memberi pengumuman kepada para penumpang bahwa 10 menit lagi pesawat akan mendarat di Bandara Soekarno-Hatta. Kukencangkan sabuk pengaman seperti yang diinstruksikan oleh kapten pesawat. Tak lama kemudian, deruh suara gaduh terdengar. Suara gesekan antara roda pesawat dengan aspal lapangan udara. Butuh waktu sekitar 10 menit bagi pesawat untuk berhenti sampai ke tempat parkirnya.

Setelah pesawat mendarat dengan selamat, kami diperbolehkan keluar dari pesawat menuju Bandara Soekarno-Hatta. Senang sekali rasanya hatiku ketika mendengar suara seorang ibu yang sedang memarahi anaknya. Bukan aku senang karena anaknya dimarahi, tapi aku senang bisa kembali mendengar percakapan-percakapan dalam Bahasa Indonesia yang hampir 1 tahun lebih jarang aku dengar.

Kami melanjutkan langkah kami ke bagian imigrasi. Disana, kami diminta untuk memperlihatkan paspor kami oleh para petugas. Setelah mendapat cap resmi dari petugas imigrasi, kami diperbolehkan menuju tempat selanjutnya yaitu tempat pengambilan bagasi. Tak butuh waktu lama bagiku untuk mengambil bagasiku dari tumpukan bagasi para penumpang. Setelah semua administrasi selesai, akhirnya aku beranjak keluar bandara untuk segera melepas rindu yang tak tertahankan ini. rindu yang terus kupendam selama satu tahun lebih.

Aku beranjak keluar, kulihat kerumunan orang yang penuh sesak. Dari mulai supir taksi yang menawarkan tumpangan, petugas hotel yang berteriak-teriak menyebutkan nama hotelnya, para penjemput yang berdesakkan, semua bercampur menutup sesak pintu terminal D yang cukup luas itu. Aku mencoba mengenali ratusan wajah para penjemput, mencoba mencari ibuku ataupun sanak keluargaku. Kulihat wajah Angga yang sangat berseri, karena telah bertemu dengan orang tua dan sanak keluarga. Aku pun ikut senang. Angga dan keluarganya mohon pamit pulang duluan, karena sudah ditunggu oleh keluarga besar di rumah. Tawa dan canda pun terus terdengar dari kerumunan para penjemput karena sudah berhasil menemukan sanak keluarganya. Sedih rasanya hati ini, disaat orang lain sudah bisa melepas rindu kepada orang yang disayanginya. aku masih terus kebingugan mencari dimana sanak saudaraku. Aku menasehati diriku sendiri,”Sabar ya, mungkin ibu dan saudara yang lain masih dalam perjalanan terjebak macet”.

Dua puluh menit berlalu, tapi aku masih belum bisa menemukan ibuku atau sanak saudaraku yang lain. Aku terus mencari. Keadaan sekitar sudah semakin sepi. Sebagian penumpang sudah dijemput oleh sanak saudara mereka masing-masing. Aku masih larut dalam kesepian. Tak tahan rasanya hati ini ingin segera bertemu ibunda tercinta. Ibunda yang tak akan ada duanya di dunia ini.

Aku memutuskan duduk di kursi tunggu. Aku melemaskan dan meregangkan otot-ototku yang mulai terasa pegal karena lamanya perjalanan. Sesekali aku melihat para petugas bandara yang duduk malas-malasan sambil menghisap rokok, hal yang sangat aku benci. Aku tidak tahu mengapa orang merokok, padahal jelas sekali bahwa rokok itu merusak kesehatan. Tidak ada gunanya. Aku membayangkan, jika seorang per hari menghabiskan satu bungkus rokok dengan biaya Rp5.000, berarti dalam satu bulan dia membelanjakan sekitar Rp 150.000 hanya untuk rokok. Itu artinya, dalam setahun ia menghabiskan hampir Rp 2.000.000 untuk membeli rokok. Dengan kata lain, seorang perokok membakar sia-sia uangya sebanyak Rp2.000.000 per tahun, jumlah yang cukup besar bila disumbangkan ke fakir miskin.

Di tengah lamunanku tentang bahaya rokok, aku mendengar suara teriakan wanita yang memanggil namaku dari arah belakang. Suara itu sangat tidak asing bagiku, suara yang sangat aku kenal. Suara yang menemaniku tidur di waktu aku kecil dulu. Suara yang membacakan aku cerita sebelum tidur di waktu aku kecil dulu. Suara yang mengajarkan aku membaca Al-Qur`an di waktu maghrib dan subuh. Suara lembut yang sudah sangat lama aku tunggu.

Aku menoleh ke belakang. Betapa bergerumuhnya hati ini. Hati ini tidak bisa lagi menahan rasa  haru yang begitu besar, begitu dalam. Wanita itu adalah ibuku. Ibu yang sangat aku rindukan kehadirannya di antara semua kumpulan manusia yang ada saat itu. Aku berlari ke arah ibu. Aku peluk ibuku dengan erat dan penuh cinta, pelukan yang tidak akan bisa dipisahkan oleh siapapun. Kurasakan air mataku yang mulai deras mengalir karena rinduku yang sangat dalam. Kupeluk erat-erat ibuku. Tak henti-henti, aku ciumi kening dan pipinya, sebagai lukisan tanda sayang dan cintaku kepadanya. Aku pandangi wajahnya. Mulai tampak helaian-helaian rambut berwarna putih di kepalanya yang tidak aku jumpai saat aku berangkat dulu, helaian rambut putih yang menandakan betapa beratnya perjuangan seorang ibu dalam menjalani bahtera kehidupan. Ombak kesedihan yang begitu besar seaakan menimpaku, tatkala aku melihat kerut wajahnya yang semakin bertambah, seakan berkata,”Ibu sudah tidak muda lagi. Ibu sudah tidak sekuat dulu lagi. Maafkan ibu ya nak.”.  Air mata semakin deras menghujani pipiku. Aku tak kuasa melihat kondisi ibuku saat ini. Kondisi yang menggambarkan bagaimana perihnya, letihnya, beratnya perjuangan seorang ibu dalam mengarungi kehidupan tanpa ada lagi ayah di sisinya.

Kulihat senyum tulus seorang ibu di tengah-tengah air mata yang mengisaratkan kesedihan di wajahnya. Sangat manis senyumnya, senyum sayang seorang ibu kepada anaknya. Senyum itu sangat menyejukkan hatiku yang sangat merindukan untaian kasih sayangnya. Bagai sebuah mata air yang menyejukkan tenggorokan di padang pasir. Aku bersyukur kepada Allah karena masih diberikan kesempatan untuk melihat ibuku. Ibu yang rela berkorban demi kesejahteraan dan kebahagiaan anak-anaknya. Ya Rabb, terima kasih karena Engkau masih berikan aku kesempatan untuk bertemu dengan ibundaku kembali.. Ya Allah, ampunilah dosa ibuku. Sayangilah ia sebagaimana ia menyayangiku di waktu kecil..

Amin

Teruntuk ibundaku yang amat kucintai...

Mochamad Asri