Beranda arrow Cerpen arrow Jam, Daun Momiji di Musim Gugur (II-Tamat)
semi color panas color gugur color dingin color
 
 
Jam, Daun Momiji di Musim Gugur (II-Tamat) Print E-mail
ditulis oleh Setyowati Hermanto   
05/11/2007
“Apa? Kuliah ke Jepang? Nggak! Mama nggak setuju!” protes Mama waktu itu, ketika bik Nah memberitahunya kalau aku berniat meneruskan kuliah di Jepang. Bik Nah, beliau memang tak pernah bisa berbohong.
“Hah? Sejak kapan Mama ada minat dengan urusan sekolahku Ma?Gak salah denger nih Ma?” seperti biasa aku menanggapi Mama dengan dingin. Aku sebal. Mama yang selama ini bahkan tak pernah datang mengambil raporku tiba-tiba ikut campur dengan keputusanku untuk kuliah di Jepang.
 “Kenapa harus ke Jepang Jez?” suara Mama mulai melunak. “Kenapa nggak ke Singapura? Disana kan ada tante Fella. Atau ke Amerika? Ada Om Yudi disana. Ntar Mama bisa nitipin kamu ke mereka”, Mama berusaha meyakinkanku.
“Emang aku barang titipan Ma?” balasku sengit.

“Tapi sayang…Mama khawatir. Kan Jepang tak pakai bahasa Inggris, Mama takut...” Mama masih tak menyerah.
“Udahlah Ma! Mama gak usah ikut campur”, aku memotong. “Selama ini juga Mama tak pernah peduli denganku? Kenapa Mama tak melayani klien-klien Mama aja? Mereka lebih butuh nasihat Mama daripada aku”,semburku.
  
Rupanya ucapanku yang terakhir manjur. Mama hanya menunduk lemah kemudian berlalu. Ada sedikit sesal melihat wajah Mama yang capek tampak sedih. Tapi segera kutepis rasa sesal itu. Semua yang aku ucapkan ke Mama memang bener kok. Mama tak pernah peduli dengan aku. Kenapa sekarang harus ngatur ngatur? Buang buang waktu aja karena semua saran Mama takkan kuterima. Khawatir? Kalo khawatir tentang biaya, aku akan bilang nggak usah. Aku akan kerja part time dan cari beasiswa. Aku mau mandiri dan lepas dari Mama.

Dan begitulah, aku tetap bersikeras untuk kuliah di Jepang. 2 bulan kemudian aku berangkat ke negeri sakura. Hanya bik Nah, pengasuhku sejak bayi, yang mengantarku ke bandara. Mama? Tak tahu! Mungkin sedang meeting sama klien kali. Aku tak mau tahu. Suatu pagi di bulan April bertahun-tahun lalu, aku pun mantap meninggalkan rumah dan menuju ke Jepang, negeri impianku. Sejak itu, aku tak pernah sekalipun pulang, hanya sesekali menelepon untuk ngobrol dengan bik Nah dan titip salam ke Mama, kalau aku tak lupa.

 
*******

“Jez, kok si Jam jarang ikut kegiatan ryuugakusei sih? Dia sibuk apa?” tanya Un Hyon, mahasiswa Korea, presiden organisasi mahasiswa asing kampus padaku sore itu.
“Mmm..sibuk baito”, jawabku. Memang akhir akhir ini Jam semakin rajin baito. Hampir tiap hari ia baito sampai malam di restoran kami. Bahkan jika tak ada pengajian, Sabtu Minggu pun ia baito.
“Dia anak beasiswa kan? Kenapa harus susah susah baito si? Beasiswa Monbusho kan besar?” Un Hyon bertanya lagi.
“Ya mana aku tahu” jawabku cuek.
Aku tak mau orang lain membicarakan Jam. Padahal, dalam hati aku sendiri aku menyimpan pertanyaan yang sama. Lagipula, tak hanya Un Hyon, Mas Jaka yang ketua Permai-DJ, Persatuan Mahasiswa Indonesia Di Jepang dan mbak Salma, leader sie keputrian Permai-DJ juga menanyakan kabar Jam yang akhir-akhir ini jarang menjadi panitia acara acara Permai-DJ. Mengapa Jam harus kerja part-time segiat itu? Apakah beasiswanya tak cukup? Padahal, sepengetahuanku Jam hemat. Ia selalu menahan diri untuk pulang ke tanah air meskipun kangen berat dengan keluarga. Ia tak pernah membeli apa apa. Bahkan komputerpun masih pakai punyaku. Tapi, di luar masalah beasiswa maupun ketakhadirannya di acara acara Permai-DJ, aku lebih mengkhawatirkan studi dan kesehatannya. Aku tak ingin kuliahnya terbengkalai dan kesehatannya terlupa. Aku ingin segera menemuinya.

********

“Assalamu’alaikum” terdengar suara seseorang dibarengi ketukan pintu di kamarku. Hmm..suara seseorang yang kunantikan. Dia tahu saja aku lagi mencari carinya.
“Wa’alaikumsalam. Langsung masuk Jam!” jawabku. Aku bangkit dan membuka kulkas, meraih roti melon yang kubeli untuknya. “Jam tadi aku beli roti melon untukmu lho di Ginzaya. Dah lama kan kita...” 

“Mbak Jez, tadi bik Nah nelpon Jam. Katanya Mama mbak sakit. Mbak diminta pulang secepatnya”, potongnya. Jam menatapku tajam.
“Hah? Bik Nah nelpon kamu? Mama sakit?” jantungku berdegup kencang. “Ah, nggak nggak..itu ngawur Jam. Itu bik Nah lagi bercanda Jam. Dia yang pengen aku pulang cepet. Mo bikinin pesta kali buat aku, kan ntar lagi aku ulang tahun”, aku mencoba menjawab setenang mungkin tapi aku tak berani menatap pandangan mata Jam. ”Yuk, makan roti aja..ntar keburu gak enak nih..” tergugup gugup aku membuka bungkus roti untuk mencoba mengalihkan perhatiannya.

Tapi, Jam tak bergeming. “Kenapa Mbak Jez selama ini bilang kalau Mama Papa mbak Jez telah meninggal? Kenapa Mbak Jez bohong sama Jam?” Jam menuntut penjelasanku. Ada nada sedih dalam tanyanya. Aku memang selalu mengatakan orang tuaku telah tiada manakala Jam menyuruhku bercerita tentang keluargaku.
“Aaah... sudahlah Jam! Bagiku, tak ada bedanya mereka ada atau nggak”, aku membela diri.
“Kenapa mbak bilang gitu? Kalau Mama Papa mbak masih hidup, itu adalah kesempatan kita untuk berbakti, untuk membahagiakan mereka membalas semua kasih sayang mereka yang selama ini...” ia mulai lagi berceramah.
Selama ini ketika aku berkata bahwa orang tuaku telah meninggal, Jam seringkali menghiburku, katanya meski orang tuaku tak lagi ada di dunia, aku masih bisa berbakti dengan cara mendoakan mereka. Karena doa dari seorang anak shaleh untuk orang tua adalah satu dari tiga amal manusia yang tak putus pahalanya meski mereka sudah masuk ke alam yang berbeda.

“Kasih sayang? Keluarga? Kamu tak tahu apa apa Jam!!” potongku sengit. “Kamu yang selalu dapat nasihat ini itu dari bapakmu, tak tahu rasanya lahir ke dunia tanpa tahu siapa ayahmu, Jam! Ayah yang tak menghendakimu, yang ingin membunuh darah dagingya sendiri jauh sebelum ia lahir. Kamu gak ngerti gimana rasanya punya Mama tapi ia selalu mendahulukan kerja daripada anaknya. Ia tak pernah ada untukku Jam. Tak ada doa doa panjang untukku dalam sholat malam Mama, seperti yang dilakukan Makmu untukmu Jam. Kamu nggak tahu apa apa Jam!!” bentakku. Baru kali ini aku berkata sekeras ini pada Jam.
Jam memandangku sedih. “Maaf Mbak, Jam memang tak tahu apa-apa tentang keluarga Mbak...” Ia menunduk. Tapi kemudian ia melanjutkan, “Tapi, walau bagaimanapun juga, kita tetap wajib menghormati orang tua, terutama ibu. Rasul pun selalu berkata demikian. Bahkan ridha Allah pun bergantung pada ridhanya orang tua mbak...”

Aku hanya diam. Jam pernah mengatakan hal ini sebelumnya. Jam, selalu meminta izin bapak dan maknya tiap kali ingin membuat keputusan. Ia ingin orang tuanya mendoakan dan meridloi apa-apa yang dikerjakannya. Karena ia ingin Allah juga ridlo padanya. Aku? Bahkan untuk keputusan sebesar kuliah di Jepang pun, aku tak peduli sama sekali akan pendapat Mama.
“Mbak Jez, pernah nggak mbak berpikir? Mungkin saja mbak yang tak tahu, mungkin semua kerja keras mama mbak selama ini adalah untuk mbak.
Lagi lagi aku hanya terdiam. Entah mengapa aku belum menemukan kata-kata yang tepat untuk membantahknya. Tiba tiba terbayang di kepalaku sosok Mama yang sering pulang dari kantor larut malam. Teringat sosok Mama yang menawarkan produk kosmetik pada ibu-ibu tetangga, jauh sebelum Mama mempunyai usaha sendiri. Wajah beliau yang berjalan kepayahan membawa tas besar berisi produk kecantikan di satu tangan sambil memegang katalog di tangan lainnya untuk dihafal. Tapi, mengapa Mama sampai mengabaikan aku untuk.....

"Mungkin diantara kesibukannya, mama Mbak masih mendoakan mbak dalam sholatnya. Dibalik tak kepedulian Mama, ada rasa ingin tahu beliau akan mimpi-mimpi mbak, ada harapan tuk ingin selalu mendampingi mbak, berbagi tangis dan tawa. Mungkin mbak yang selama ini tak mau membuka hati pada Mama....”
“Kok kamu jadi nyalahin aku sih Jam?”jawabku marah. "Yang menderita di sini bukan Mama Jam! Tapi AKU!! Yang jadi korban itu Aku! Aku!!"
“Bukan begitu maksud Jam, Jam cuma gak ingin mbak nyesel. Mbak masih punya Mama. Mbak masih punya kesempatan berbakti. Dan sekarang Mama Mbak sakit, beliau perlu mbak.."
"Aaaahh... sudahlah!!Urus aja dirimu sendiri! Kamu sendiri baito mulu! Kamu anak beasiswa ngapain sih baito? Emang kamu buat apa sih uang segitu banyak ? Kamu ke Jepang buat belajar kan bukan buat cari uang??? Capek tahu ditanyain orang orang tentang kamu. Bosan juga tiap hari kamu datang buat pake komputer. Beli aja kenapa sih? Emang gaji baito dan beasiswanya kamu timbun?" berhamburanlah kata-kata kasar dari mulutku. Aku sendiri tak percaya aku bisa berkata kata sekejam itu pada Jam. Padahal aku hanya ingin menghindar dari segala nasihat Jam tentang Mama. Aku takut kalau semua hal yang Jam katakan tentang Mama ternyata benar.
Setelah mendengar semua umpatanku Jam hanya berlalu sambil memandangku sedih. Raut mukanya jelas menunjukkan bahwa hatinya terluka. Tapi, aku lebih terluka karena aku telah menyakiti hati seseorang yang amat kucinta.

********


Sampai saat ini, aku tak pernah menduga pertengkaran hari itu menjadi pertengkaranku yang terakhir dengan Jam. 2 hari setelahnya, di tengah malam aku mendapat telepon dari Yamada san memberitakan bahwa Jam masuk rumah sakit dan terluka parah. Sempat terdengar samar penjelasannya tentang perampokan di restoran. Berlinang air mataku ketika kudapati Jam tergolek lemah di ranjang. Dengan sesenggukan aku meminta maaf padanya atas pertengkaran kami. Jam hanya mengangguk ringan dan memegang tanganku, seolah memintaku agar tetap tinggal. Ingin sekali kukatakan pada Jam bahwa semuanya akan baik baik saja. Besok ia akan sembuh, kemudian pulang ke asrama dan lusa kami akan bersepeda bersama ke kampus tercinta. Tapi bibirku kelu dan hatiku mulai merasa mungkin malam itu akan menjadi malam terakhirku bersama Jam. Aku pun menggengam erat tangannya dan mengangguk mendengarkan semua permintaannya yang diucapkan dengan terbata bata. Dan ketika ia makin lemah, kukuatkan hatiku untuk mendampinginya menggumamkan kalimah syahadah dan membimbingnya melantunkan dzikir pada Yang Maha Kuasa. Suatu malam di musim gugur lima tahun lalu, Jam pun meninggalkanku. Ia berpulang kepada Sang Pencipta, Allah Subhana wa Ta'ala. Inna lillahi wa inna ilaihi rajiun.

Jam pergi dengan tenang, dengan sebuah senyuman yang sama seperti ketika dia dan aku akan pergi menangkap capung di taman. Aku pun mengantarkan kepergian Jam dengan ikhlas dan hati lapang, karena kami sudah saling memaafkan.


*******

Membaca diarynya dan memberikan semua benda di Kotak Kesayangan di kamarnya kepada Bapak dan Maknya di Indonesia, adalah permintaan terakhir Jam padaku. Ada satu lagi pintanya, yang tak kuasa untuk kutolak karena ia mengucapkannya dengan sepenuh hati. Jam memintaku untuk pulang dan mengunjungi Mama. Di saat-saat terakhirnya, ia masih sempat memikirkanku, ia masih ingin meyakinkanku untuk berusaha mencintai orang tua. Oh Jam... betapa ia menyayangiku, sahabatnya yang keras kepala dan tak pernah mau mengalah. Ya Allah... jagalah Jamku. Ampunilah segala dosanya, terimalah segala amal baiknya.

Banyak hal tentang Jam yang baru aku tahu setelah ia tiada. Bahwa Jam sebenarnya berasal dari keluarga tak berada. Bahwa adiknya yang paling kecil ternyata pernah tertunda sekolahnya karena tak ada biaya. Bahwa sebagian besar beasiswa Jam dikirimkan ke Indonesia, untuk biaya sekolah adik-adiknya dan membeli bibit dan pupuk untuk sawah bapaknya. Satu hal lagi yang tak pernah aku sadari sebelumnya, bahwa segala baito dan usahanya meghemat uang beasiswa yang tersisa, ternyata adalah untuk mewujudkan impian Bapak dan Maknya pergi berhaji ke Mekkah. Terisak Bapak dan Maknya menceritakan itu semua kepadaku, ketika aku berkunjung ke rumahnya di Sleman. Ya Allah, baru aku benar-benar tersadar bahwa Jam sahabatku adalah seorang hamba-Nya yang begitu berbakti dan mencintai orang tuanya. Suatu hal yang seringkali ia ajarkan padaku, meski selalu aku acuhkan begitu saja.

Menemui Mama? Tentu aku juga memenuhi permintaan Jam yang kurasa paling berat ini. Anehnya, sejak aku membuka pintu pagar, aku baru menyadari betapa aku merindukan rumah yang sudah beberapa tahun aku tinggalkan. Aku merasa pulang bukan lagi untuk memenuhi janjiku pada Jam, tapi karena aku memang ingin kembali ke rumah. Terlebih ketika aku melihat Mama yang terbaring tak berdaya, aku merasa iba. Semua kebencianku pada Mama seolah sirna begitu saja ketika aku mendapatinya tidur sambil memeluk sebuah pigura berisi foto diriku ketika memenangkan lomba Matematika dulu di SMA. Tak kuasa aku menahan tangis melihat Mama yang kurus kering dan tampak lelah. Ketika aku membangunkannya, Mama hanya bisa menangis dan mengucap Alhamdulillah, berulang kali ia berterima kasih pada Allah karena telah membawa aku kembali padanya. Aku pun larut dalam tangis. Dan entah berapa tahun berlalu sejak terakhir kali aku melakukannya, aku peluk Mama erat-erat, bersyukur bahwa Mama masih ada, bersyukur bahwa masih ada kesempatan untuk berbakti pada Mama, untuk saling memaafkan serta berbagi cerita. Banyak hal yang ingin aku bagi dengan Mama. Tentang kuliah, tentang Jepang, tentang Jam. Oh Jam, andaikan saja dia ada......

*********

"Allaahummaghfirli waliwaalidayya warkhamhuma kamaa rabbayaani shaghiira" untuk kesekian kalinya kuucap lirih doa itu, kali ini sambil merapatkan syalku.
"Jez....."terdengar suara seorang memanggil namaku.
Aku pun menoleh dan mendapati Mama berjalan ke arahku.
"Udah ma, sholatnya?"
"Udah...maaf ya lama."
Aku menggeleng. "Udah doain Jam?" tanyaku
Mama mengangguk sambil tersenyum. "Mama janji akan selalu doain Jam, sayang."
"Makasih ya Ma.... Tapi ih, Mama jorok. Liat tuh, daunnya masih nempel nempel tuh di bajunya", aku mulai mengibas-ibaskan rok Mama dan memunguti daun kering yang menempel di jilbabnya.
" Ya, namanya aja sholat di taman, nak. Di bawah pohon mojimi lagi, daunnya rontok semua tadi".
"Mo-mi-ji Mah! Ih malu-maluin ajah!" aku tertawa geli.
"Eh iya iya..momiji. Lha kamu sendiri, jilbabnya miring miring tuh. Mana yang syal mana yang jilbab juga gak jelas. Hehehe" Mama tertawa. Aku pun ikut tertawa.
Dasar Mama tak pernah mau ngalah. Persis kayak anaknya.

Angin dingin masih menyapa, dan daun-daun momiji yang merah itu masih berguguran. Daun momiji itu mengingatkanku pada Jam. Daun momiji gugur, tapi setelah ia berwarna merah sempurna dan menyajikan keindahan musim gugur pada siapa saja yang melihatnya. Persis seperti Jam, yang sebelum meninggalkanku, selalu mencintaiku dengan sepenuh hati, menyajikan indahnya persahabatan dan menyadarkanku untuk mencintai sesorang yang telah membuat kita hadir di dunia dan yang tanpa kita tahu, rela melakukan apa saja demi kita. Terima kasih ya Allah, Kau telah memberiku Jam, daun momiji terindah di musim gugurku.

"Ma...." panggilku lagi.
"Iya?"
"Musim gugur itu indah ya......"


Tokyo, 23 Oktober 2007

Untuk keluarga dan sahabatku tercinta, terima kasih untuk segalanya. Semoga Allah SWT melindungi kalian semua.

Terjemahan bahasa Jepang :

Momiji                            : maple tree
Semi                              : jengkerik, hewan yang banyak dijumpai di musim panas.
Natsu                             : musim panas
Suika                             : semangka
Aki                                : musim gugur
Yoroshiku onegaishimasu     : diucapkan ketika berkenalan atau meminta bantuan
Yoroshiku ne                    : diucapkan ketika berkenalan atau meminta bantuan
Minna san                        : semuanya, sapaan pada khalayak.
Baito                              : kerja part time
Tenchou                          : Yang punya warung, restaurant, ato toko
Ryuugakusei                     : pelajar asing