| Jam, Daun Momiji di Musim Gugur (II-Tamat) |
|
|
| ditulis oleh Setyowati Hermanto | ||
| 05/11/2007 | ||
“Hah? Sejak kapan Mama ada minat dengan urusan sekolahku Ma?Gak salah
denger nih Ma?” seperti biasa aku menanggapi Mama dengan dingin. Aku
sebal. Mama yang selama ini bahkan tak pernah datang mengambil raporku
tiba-tiba ikut campur dengan keputusanku untuk kuliah di Jepang.
“Kenapa harus ke Jepang Jez?” suara Mama mulai melunak. “Kenapa nggak
ke Singapura? Disana kan ada tante Fella. Atau ke Amerika? Ada Om Yudi
disana. Ntar Mama bisa nitipin kamu ke mereka”, Mama berusaha
meyakinkanku.
“Emang aku barang titipan Ma?” balasku sengit.
“Tapi sayang…Mama khawatir. Kan Jepang tak pakai bahasa Inggris, Mama takut...” Mama masih tak menyerah.
*******
“Jez, kok si Jam jarang ikut kegiatan ryuugakusei sih? Dia sibuk
apa?” tanya Un Hyon, mahasiswa Korea, presiden organisasi mahasiswa
asing kampus padaku sore itu.
“Mmm..sibuk baito”, jawabku. Memang akhir akhir ini Jam semakin rajin baito. Hampir tiap hari ia baito sampai malam di restoran kami. Bahkan jika tak ada pengajian, Sabtu Minggu pun ia baito. “Dia anak beasiswa kan? Kenapa harus susah susah baito si? Beasiswa Monbusho kan besar?” Un Hyon bertanya lagi.
“Ya mana aku tahu” jawabku cuek.
Aku tak mau orang lain membicarakan Jam. Padahal, dalam hati aku sendiri aku menyimpan pertanyaan yang sama. Lagipula, tak hanya Un Hyon, Mas Jaka yang ketua Permai-DJ, Persatuan Mahasiswa Indonesia Di Jepang dan mbak Salma, leader sie keputrian Permai-DJ juga menanyakan kabar Jam yang akhir-akhir ini jarang menjadi panitia acara acara Permai-DJ. Mengapa Jam harus kerja part-time segiat itu? Apakah beasiswanya tak cukup? Padahal, sepengetahuanku Jam hemat. Ia selalu menahan diri untuk pulang ke tanah air meskipun kangen berat dengan keluarga. Ia tak pernah membeli apa apa. Bahkan komputerpun masih pakai punyaku. Tapi, di luar masalah beasiswa maupun ketakhadirannya di acara acara Permai-DJ, aku lebih mengkhawatirkan studi dan kesehatannya. Aku tak ingin kuliahnya terbengkalai dan kesehatannya terlupa. Aku ingin segera menemuinya.
********
“Assalamu’alaikum” terdengar suara seseorang dibarengi ketukan pintu di kamarku. Hmm..suara seseorang yang kunantikan. Dia tahu saja aku lagi mencari carinya. “Wa’alaikumsalam. Langsung masuk Jam!” jawabku. Aku bangkit dan membuka kulkas, meraih roti melon yang kubeli untuknya. “Jam tadi aku beli roti melon untukmu lho di Ginzaya. Dah lama kan kita...”
“Mbak Jez, tadi bik Nah nelpon Jam. Katanya Mama mbak sakit. Mbak diminta pulang secepatnya”, potongnya. Jam menatapku tajam.
Tapi, Jam tak bergeming. “Kenapa Mbak Jez selama ini bilang kalau Mama
Papa mbak Jez telah meninggal? Kenapa Mbak Jez bohong sama Jam?” Jam
menuntut penjelasanku. Ada nada sedih dalam tanyanya. Aku memang selalu
mengatakan orang tuaku telah tiada manakala Jam menyuruhku bercerita
tentang keluargaku.
“Kasih sayang? Keluarga? Kamu tak tahu apa apa Jam!!” potongku sengit.
“Kamu yang selalu dapat nasihat ini itu dari bapakmu, tak tahu rasanya
lahir ke dunia tanpa tahu siapa ayahmu, Jam! Ayah yang tak
menghendakimu, yang ingin membunuh darah dagingya sendiri jauh sebelum
ia lahir. Kamu gak ngerti gimana rasanya punya Mama tapi ia selalu
mendahulukan kerja daripada anaknya. Ia tak pernah ada untukku Jam. Tak
ada doa doa panjang untukku dalam sholat malam Mama, seperti yang
dilakukan Makmu untukmu Jam. Kamu nggak tahu apa apa Jam!!” bentakku.
Baru kali ini aku berkata sekeras ini pada Jam.
Aku hanya diam. Jam pernah mengatakan hal ini sebelumnya. Jam, selalu
meminta izin bapak dan maknya tiap kali ingin membuat keputusan. Ia
ingin orang tuanya mendoakan dan meridloi apa-apa yang dikerjakannya.
Karena ia ingin Allah juga ridlo padanya. Aku? Bahkan untuk keputusan
sebesar kuliah di Jepang pun, aku tak peduli sama sekali akan pendapat
Mama.
"Mungkin diantara kesibukannya, mama Mbak masih mendoakan mbak dalam
sholatnya. Dibalik tak kepedulian Mama, ada rasa ingin tahu beliau akan
mimpi-mimpi mbak, ada harapan tuk ingin selalu mendampingi mbak,
berbagi tangis dan tawa. Mungkin mbak yang selama ini tak mau membuka
hati pada Mama....”
********
*******
Membaca diarynya dan memberikan semua benda di Kotak Kesayangan di
kamarnya kepada Bapak dan Maknya di Indonesia, adalah permintaan
terakhir Jam padaku. Ada satu lagi pintanya, yang tak kuasa untuk
kutolak karena ia mengucapkannya dengan sepenuh hati. Jam memintaku
untuk pulang dan mengunjungi Mama. Di saat-saat terakhirnya, ia masih
sempat memikirkanku, ia masih ingin meyakinkanku untuk berusaha
mencintai orang tua. Oh Jam... betapa ia menyayangiku, sahabatnya yang
keras kepala dan tak pernah mau mengalah. Ya Allah... jagalah Jamku.
Ampunilah segala dosanya, terimalah segala amal baiknya.
Banyak hal tentang Jam yang baru aku tahu setelah ia tiada. Bahwa Jam sebenarnya berasal dari keluarga tak berada. Bahwa adiknya yang paling kecil ternyata pernah tertunda sekolahnya karena tak ada biaya. Bahwa sebagian besar beasiswa Jam dikirimkan ke Indonesia, untuk biaya sekolah adik-adiknya dan membeli bibit dan pupuk untuk sawah bapaknya. Satu hal lagi yang tak pernah aku sadari sebelumnya, bahwa segala baito dan usahanya meghemat uang beasiswa yang tersisa, ternyata adalah untuk mewujudkan impian Bapak dan Maknya pergi berhaji ke Mekkah. Terisak Bapak dan Maknya menceritakan itu semua kepadaku, ketika aku berkunjung ke rumahnya di Sleman. Ya Allah, baru aku benar-benar tersadar bahwa Jam sahabatku adalah seorang hamba-Nya yang begitu berbakti dan mencintai orang tuanya. Suatu hal yang seringkali ia ajarkan padaku, meski selalu aku acuhkan begitu saja. Menemui Mama? Tentu aku juga memenuhi permintaan Jam yang kurasa paling berat ini. Anehnya, sejak aku membuka pintu pagar, aku baru menyadari betapa aku merindukan rumah yang sudah beberapa tahun aku tinggalkan. Aku merasa pulang bukan lagi untuk memenuhi janjiku pada Jam, tapi karena aku memang ingin kembali ke rumah. Terlebih ketika aku melihat Mama yang terbaring tak berdaya, aku merasa iba. Semua kebencianku pada Mama seolah sirna begitu saja ketika aku mendapatinya tidur sambil memeluk sebuah pigura berisi foto diriku ketika memenangkan lomba Matematika dulu di SMA. Tak kuasa aku menahan tangis melihat Mama yang kurus kering dan tampak lelah. Ketika aku membangunkannya, Mama hanya bisa menangis dan mengucap Alhamdulillah, berulang kali ia berterima kasih pada Allah karena telah membawa aku kembali padanya. Aku pun larut dalam tangis. Dan entah berapa tahun berlalu sejak terakhir kali aku melakukannya, aku peluk Mama erat-erat, bersyukur bahwa Mama masih ada, bersyukur bahwa masih ada kesempatan untuk berbakti pada Mama, untuk saling memaafkan serta berbagi cerita. Banyak hal yang ingin aku bagi dengan Mama. Tentang kuliah, tentang Jepang, tentang Jam. Oh Jam, andaikan saja dia ada......
*********
"Allaahummaghfirli waliwaalidayya warkhamhuma kamaa rabbayaani
shaghiira" untuk kesekian kalinya kuucap lirih doa itu, kali ini sambil
merapatkan syalku.
"Jez....."terdengar suara seorang memanggil namaku. Aku pun menoleh dan mendapati Mama berjalan ke arahku. "Udah ma, sholatnya?" "Udah...maaf ya lama." Aku menggeleng. "Udah doain Jam?" tanyaku
Mama mengangguk sambil tersenyum. "Mama janji akan selalu doain Jam, sayang."
"Makasih ya Ma.... Tapi ih, Mama jorok. Liat tuh, daunnya masih nempel nempel tuh di bajunya", aku mulai mengibas-ibaskan rok Mama dan memunguti daun kering yang menempel di jilbabnya. " Ya, namanya aja sholat di taman, nak. Di bawah pohon mojimi lagi, daunnya rontok semua tadi". "Mo-mi-ji Mah! Ih malu-maluin ajah!" aku tertawa geli. "Eh iya iya..momiji. Lha kamu sendiri, jilbabnya miring miring tuh. Mana yang syal mana yang jilbab juga gak jelas. Hehehe" Mama tertawa. Aku pun ikut tertawa. Dasar Mama tak pernah mau ngalah. Persis kayak anaknya.
Angin dingin masih menyapa, dan daun-daun momiji yang merah itu masih
berguguran. Daun momiji itu mengingatkanku pada Jam. Daun momiji gugur,
tapi setelah ia berwarna merah sempurna dan menyajikan keindahan musim
gugur pada siapa saja yang melihatnya. Persis seperti Jam, yang sebelum
meninggalkanku, selalu mencintaiku dengan sepenuh hati, menyajikan
indahnya persahabatan dan menyadarkanku untuk mencintai sesorang yang
telah membuat kita hadir di dunia dan yang tanpa kita tahu, rela
melakukan apa saja demi kita. Terima kasih ya Allah, Kau telah
memberiku Jam, daun momiji terindah di musim gugurku.
"Ma...." panggilku lagi. "Iya?" "Musim gugur itu indah ya......" Tokyo, 23 Oktober 2007
Untuk keluarga dan sahabatku tercinta, terima kasih untuk segalanya. Semoga Allah SWT melindungi kalian semua.
Terjemahan bahasa Jepang : Momiji : maple tree Semi : jengkerik, hewan yang banyak dijumpai di musim panas. Yoroshiku ne : diucapkan ketika berkenalan atau meminta bantuan Minna san : semuanya, sapaan pada khalayak. Baito : kerja part time |
||