| Jam, Daun Momiji di Musim Gugur (I) |
|
|
| ditulis oleh Setyowati Hermanto | |
| 31/10/2007 | |
Musim panas telah berakhir. Tak terdengar lagi suara semi yang selalu
mengerik tanpa henti. Usai sudah “musik natsu” itu. Musik yang dulu
selalu mengiringi hari-hariku bersamanya di taman, menangkap capung
atau sekedar piknik-piknikan menyantap hasil masakan eksperimen kami di
dapur asrama. Telah lewat angin semilir musim panas, Tak kurasakan lagi
bisikannya yang selalu meniupkan kesejukan di tengah panasnya terik
matahari bulan Agustus. Angin yang selalu membuat jilbabnya berkibar
kibar, ketika aku dan dia bersepeda beriringan menuju kampus tercinta.
Tak ada lagi suikawari, lomba memecah buah semangka di musim panas yang
dulu selalu kami menangkan. Aku yang mengarahkan dan dia yang matanya
tertutup berusaha mencari cari letak suika sambil mengayun-ayunkan
tongkat dengan membabi buta. Betapa lucu ekspresinya tiap kali ia
mengayunkan tongkat pemukul ke arah yang salah. Masih terpeta dengan
jelas di kepala, tawa kami ketika memenangkan sebuah semangka raksasa
hadiah juara pertama. Musim panas tahun ini telah berakhir tapi semua
kenangan musim panas yang kulalui bersamanya masih tersimpan rapi di
hatiku, tak pergi kemana mana. Aaahh..betapa aku merindukannya.
“Aku kangen kamu Jam”, bisikku lirih kepada dedaunan yang telah menguning.
Angin bulan November datang menyapa. Beberapa daun yang memerah tutup usia, terlepas dari ranting dan jatuh ke tanah. Aku merapatkan jaketku dan menggeser dudukku, berharap itu akan menambah kehangatan pada tubuhku.Banyak orang Jepang suka dengan musim gugur. Romantis, kata mereka. Taman-taman dipenuhi dengan pohon momiji yang daunnya memerah. Memang indah, tapi aku tak suka dengan aki. Tak lagi, setelah ia merenggut Jam dariku. Jam sayangku, yang kucintai dengan sepenuh hati dengan segenap rasa sayang yang masih tersisa secuil di hatiku setelah sekian lama aku lupa bagaimana rasanya mencinta. Jam meninggalkanku di musim gugur. Dan kini, 5 musim gugur telah terlewati, tapi aku tetap tak bisa melupakan kepergian Jam. Angin musim gugur tak hanya menerbangkan dedauan tapi ia juga membawa pergi senyuman dan tawa ceria Jam. Tiupannya tak hanya memisahkan dedauan dari pohon, ia juga memisahkanku dari sahabat yang paling kucinta, Jam tersayangku.
*******
“Assalamu’alaikum. Kenalkan, nama saya Siti Jamilah. Tapi jangan panggil siti yah, panggil aja ‘jem’, cara bacanya “selai” dalam bahasa inggris itu lho…soalnya kata temen, saya manis kayak selai. Hehehehe….Yoroshiku onegaishimasu”, seorang gadis berjilbab memperkenalkan dirinya ke kami semua. Logat jawanya kental sekali. Ia tersenyum ramah kepada kami semua dan aku tak suka melihatnya. Ia terlalu pe-de untuk ukuran anak baru. Namun, entah mengapa wajahnya tak asing bagiku. Aku merasa pernah melihatnya sebelumnya. “Minna san, karena Siti…eh... Jam baru pertama kali baito, yoroshiku ne”, Yamada san, tenchou kami menambahkan. “Baru pertama baito? Huh, pasti anak beasiswa! Ngapain juga dia baito? Udah dapet beasiswa gedhee, belum puas juga”, batinku. Kemudian Yamada san berpaling ke arahku “Jez, karena dia juga bagian cuci piring, tolong dibimbing yah...” “Hai”, jawabku semangat, padahal dalam hati aku protes. Mengajarinya ini itu akan menambah kerjaanku yang sudah banyak. “Gue Jessica, panggil aja Jez”, kataku tanpa tersenyum. Aku mengulurkan tangan ogah-ogahan “Mbak jez. Saya Jam. Yoroshiku ne”, Ia tersenyum dan membalas uluran tanganku dengan hangat. Hah? Mbak? Seumur-umur baru kali ini aku dipanggil “mbak”. Dengan logat jawa yang kental lagi. Sebenarnya aku ingin ketawa, tapi kutahan. Ntar dia ngelunjak, mengira aku menyukainya. “Tak usah pakai mbak, Jez aja”, lagi lagi aku berkata dingin. “Ayo kita ke dapur!”, ajakku. “Mbak Jez...”, panggilnya. “Gak usah pake mbak!”, sahutku. “Apa lagi sih?”, bentakku gak sabar. “Buah duku buah dondong. Tersenyum dulu dong!”, katanya sambil meringis lebar. “Hah? Lu...”, belum sempat aku berkata-kata lagi, dia sudah menyela. “Tersenyum itu berpahala lho, mbak! Kata pak ustadz di kampungku...”, lanjutnya. “Hah? Lu mau nyeramahin gue?” “Kata pak ustadz lagi: Buah plum, buah manggis. Coba deh mbak Jez tersenyum, pastii manis!! Huehhehehe…”, dengan seringai lebarnya ia ngeloyor pergi ke dapur. “Hrrgghh.. Jamilah!!!! Dasar!! Berani bener kau, anak baru!!”, aku hanya bisa menahan geram.
******
Pantas saja aku merasa Jam tak asing. Ia ternyata sekampus denganku, Jam anak Teknik Mesin. Aku ingat, ketika menjadi panitia upacara pembukaan mahasiswa baru, aku melihat seorang berjilbab di antara ratusan mahasiswa baru. Beberapa waktu lalu, ketika mendapatiku berjalan di depan gedung fakultas Hukum, Jam, dengan suara lantang dan medhoknya berteriak memanggilku. Mbak Jeeezz..... teriaknya heboh sampai semua mahasiswa Jepang yang ada di depan gedung itu ikut menoleh ke arahnya. Tapi Jam tak peduli. Ia senang sekali mengetahui aku sekampus dengannya. Katanya Ia kesepian karena belum bertemu satupun orang Indonesia. Padahal ia juga ingin minta tolong tentang dokumen ini itu yang harus diisi mahasiswa baru. Makanya ia lega sekali bertemu denganku. Ia sampai memelukku erat-erat, meski aku berusaha keras melepaskan tangannya dari leherku. Benar benar tak tahu malu gadis itu. Tapi dalam hati, aku terharu. Baru kali ini aku bertemu orang selain bik Nah, yang begitu senangnya akan keberadaanku. Dan ternyata, pertalianku dengan Jam tak sampai di situ. Tepat seminggu setelahnya, Jam pindah ke asrama yang sama denganku! Dan ia tinggal selantai denganku! Oh Tuhan! Ia melonjak-lonjak kegirangan ketika mengetahui kamarku hanya berjarak sepuluh langkah dari kamarnya. Ya sudahlah, mungkin bertemu dengan Jam dan menanggapi segala banyolannya yang jayus adalah ketakberuntungan yang harus kuterima. Begitu pikirku saat itu. Selama ini aku sulit untuk membuka hati pada orang yang ingin berteman denganku. Rasa kehilanganku akan sesuatu hal membuatku terlalu takut untuk berteman. Aku takut dikecewekan. Aku takut teman-teman berpaling dariku di saat aku sudah berharap mereka menyayangiku. Tapi rupanya, segala keluguan Jam, keceriaannya dan pantun-pantun khasnya yang penuh dengan nama buah-buahan itu telah melunakkan hati kerasku dan menghapus muka garangku yang selama ini kupasang ketika aku berhadapan dengannya. Tak butuh waktu lama bagi Jam untuk menaklukkanku dan menghilangkan perilaku tak ramahku dan kami pun menjadi sahabat karib. Ke kampus kami bersepeda bersama, di pojok perpustakaan lantai 2 kami berdua sembunyi- sembunyi makan roti melon atau numpang tidur sama-sama, dan di tangga darurat gedung fakultas Hukum yang agak seram itu kami selalu sholat berjamaah. Satu lagi, kami bermimpi untuk mendirikan restoran halal milik kami sendiri, “Jam n’ Jez”. Tiap kali kami kena marah tenchou karena memecahkan piring di tempat baito. Aaah... Jam, kehadirannya di hidupku telah mengisi kekosongan hatiku yang selama ini merindukan cinta, dengan cinta seorang sahabat yang tulus. Aku mulai berpikir, Allah ternyata masih sayang padaku. Ia telah mengirimkan Jam padaku untuk menggantikan mereka, orang-orang yang membuatku merasa kehadiranku seolah-olah tak berarti apa-apa...
*********
“Mbak Jez. Emang namaku itu ndeso ya mbak?”, tanyanya padaku suatu malam ketika ia berada di kamarku untuk mengerjakan PR dengan komputerku. Jam memang sering sekali berkunjung ke kamarku. Yang pinjem komputer lah, pinjem buku lah, atau ngajak sholat berjamaah. Di lain hari, jelas-jelas aku yang anak Hukum tak tahu apa apa tentang kalkulus, eh ia malah menyatroni kamarku dengan alasan ingin dibantu mengerjakan PR kalkulus. Dasar Jam, ada-ada saja alasannya agar ia bisa main ke kamarku. Aku senang senang saja menerimanya meski dulu pada mulanya aku merasa terganggu karena aku terbiasa dengan kesendirian di kamarku. Tak pernah ada orang yang berkunjung ke kamarku apalagi mengajakku sholat berjamaah. Ada beberapa muslimah dari Mesir di asrama tapi siapa yang tahu aku muslim? Aku tak berjilbab seperti Jam. Rambut hitamku telah kucat pirang dan kulitku putih bersih. Bahkan banyak teman Jepangku yang tak mengira aku orang Indonesia. “Kenapa kamu tanya gitu Jam?” aku balik bertanya. “Kamu nggak PD dengan nama kamu?” tebakku. Tak biasanya ia merasa tak PD. “Eit..siapa bilang? Enak ajah! Jam bangga lagi mbak dengan nama Jam. Kan artinya bagus, lagian nama Jam ini pemberian Bapak dan Mak. Ah..Bapak dan Mak gimana ya kabarnya?” kata Jam sambil menerawang. Hmm..mungkin Jam lagi kangen dengan keluarganya di Sleman. Jam adalah anak kedua dari lima bersaudara. Bapak Ibunya petani. Kakaknya yang tertua seorang guru SD di desa kelahirannya sedangkan adiknya yang terkecil masih kelas 5. Ia terlahir di keluarga besar, tak heran seringkali ia berkata betapa ia rindu dengan keluarganya di tanah air. Kangen dengan keluarga? Sebuah rasa yang asing bagiku. Aku tak mengerti bagaimana rasanya... Karena aku anak tunggalkah? Atau karena Mama yang tak pernah... “Tahu gak mbak, arti Siti Jamilah itu apa?” tanyanya lagi membuyarkan pikiranku. Belum sempat aku menjawab, ia sudah menjelaskan, “Kata bapak, Siti diambil dari Siti Khadijah, istri Rasulullah yang mulia. Bapak berharap kelak aku menjadi seorang wanita seperti Siti Khadijah, mbak. Seorang yang tak hanya kaya harta tapi kaya hati, yang bersedia mengorbankan harta bendanya demi membela agama Allah.” jelasnya. “Kalau jamilah?” tanyaku. “Jamilah itu dari bahasa Arab, mbak. Artinya kirei, cantik. Hehehe... Pinter kan bapak dan makku? Cocok banget kasih namanya”, ia terkekeh meski di sudut matanya ada setitik air mata yang hampir jatuh. “Udah Jam, kamu telpon ke bapak dan makmu pake telpon internet.” Aku bangkit mengambil headset dan mic untuk menelepon. Memang, kangen keluarga di tanah air adalah salah satu “derita” para mahasiswa asing di negeri sakura ini. Untung negeri ini diberkahi dengan teknologi yang hebat. Berbeda dengan tanah air, akses internet yang cepat di Jepang membuat komunikasi dengan keluarga pun menjadi lebih lancar. Tapi untunglah aku tak pernah mengalami derita kangen keluarga seperti Jam, jadi aku tak perlu repot-repot beli pulsa buat nelpon ke tanah air. “Ndak usah, mbak Jez!” Jam menolak. “Kita sholat Isya aja, yuk. Jam mau menitipkan bapak sama mak ke Gusti Allah. Mau berdoa buat keluarga di rumah”, katanya lagi. Ia bangkit dan pergi ke kamar mandi untuk berwudlu. Berdoa untuk keluarga? Untuk Mama? Aku tak tahu untuk alasan apa aku mendoakan Mama, orang yang selalu memilih untuk menemani klien di kantor daripada menemani anaknya makan malam di rumah. Berangkat sebelum aku bangun dan pulang ketika aku telah terlelap, selalu beralasan mencari uang padahal yang kubutuhkan adalah belaian hangat dan kasih sayang. Mama yang meninggalkan anaknya tugas ke luar kota berhari-hari hanya dengan secarik kertas pemberitahuan “Mama pergi sebentar. Baik-baik di rumah ya sayang”. Mama yang tak pernah memberiku selamat ketika aku juara lomba matematika, Mama yang tak pernah ada untuk menenangkanku ketika aku menangis atau sekedar untuk berbagi cerita dan tawa. Berdoa untuk Papa? Bahkan aku tak tahu siapa namanya. Ya, aku adalah anak yang tumbuh tanpa kehadiran seorang ayah. Papa yang mungkin tak pernah mengharapkan aku tercipta. Yang kudengar dari selentingan tetangga, papa pernah mencoba membuangku, jauh sebelum aku hadir di dunia. Bagiku, Papa tak lebih dari seorang laki- laki yang membuatku iri pada anak-anak lain karena aku tak pernah merasakan bagaimana senangnya dipanggul seorang ayah, seperti mereka yang aku lihat ketika aku dan Bik Nah jalan-jalan ke kebun binatang. Aku harus menerima ejekan teman-teman di sekolah karena aku lahir tanpa ayah. Aku menderita di sekolah dan susah berteman gara-gara Papa. Papa dan Mama telah memupuskan harapanku untuk merasakan cinta sebuah keluarga. Makanya, aku tak pernah berdoa untuk Mama atau Papa. Aku tak tahu untuk apa. “Allahummaghfirli waliwaalidayya warkhamhumaa kamaa robbayaani shoghiira.” kudengar Jam disampingku mengucapkan doa kesayangannya itu dengan sepenuh hati. Aku hanya diam membisu. Doa itu sudah aku hafal sejak aku TK tapi aku tak pernah melafalkannya selain untuk hafalan doa di pelajaran agama. “Ya Allah, ampunilah dosa dosa orang tua saya. Sayangilah mereka sebagaimana mereka menyayangi saya. Lindungilah mereka ya Allah....” Jam masih melanjutkan doanya dan aku sudah mulai melipat mukena dan sajadah.
********
Bersambung
|