Beranda arrow Karangan Bebas arrow Surat untuk Bapak dan Ibu
semi color panas color gugur color dingin color
 
 
Surat untuk Bapak dan Ibu Print E-mail
ditulis oleh Putri Palupi Kusumaningrum   
23/10/2007

Assalaamu`alaykum Warahmatullaahi Wabarakaatuh.

Apa kabar lebaran di kampung, Pak? Dulu, sejak kami masih kecil-kecil, Bapak ajak jalan-jalan kami bertiga keliling kampung tiap malam lebaran untuk mengunjungi rumah mbah-mbah yang remang-remang, sempit, dan kadang berdekatan ranjang dengan kambing. Kata Bapak, mbah-mbah itu kesepian, karena anak cucunya lupa  pulang, atau memang belum datang di saat Lebaran. Aku ingat, rasanya dulu capek dan kelamaan tak ingin pergi, karena mengantuk, dan suguhannya biasanya cuma kacang atau teh yang terlalu manis. Tapi tentu aku menikmati saat-saat itu. Kami jadi tahu bersyukur hidup enak, ya, Pak.

Sekarang, karena aku sudah jauh di tanah Jepang ini, sudah lama aku bebas tugas menemani Bapak jalan-jalan. Tentu Bapak kesepian, ya. Dan ternyata perasaanku pun bukan merasa senang karena tak perlu berbecek-becek malam Lebaran. Aku juga merasa kehilangan, Pak. 

Ada juga saudara-saudara muslim Jepang yang kurang mampu, sehingga termasuk dalam golongan mustahiq. Tapi aku juga bukan pengelola zakat, jadi aku tak mendapat kesempatan membuat hati ini lebih halus lewat pertemuan langsung dengan dhuafa.

Meskipun begitu, aku bisa merasakan kenikmatan besar ramadhan dan lebaran di sini, Pak, Bu. Biasanya, di tanah air aku tak pergi beriktikaf ke mesjid, karena beralasan kita sibuk pulang kampung, atau karena lantai masjid yang dingin, atau masjid di kampung yang orangnya aku tak kenal semua. Tapi di sini, kakak-kakak senior selalu mengajak untuk beriktikaf di masjid walaupun hanya dari semenjak isya sampai subuh. Walaupun cuma satu atau dua hari selama satu musim ramadhan.

Senang, Pak, Bu. Bisa bertemu dengan saudara-saudara muslim yang kulitnya hitam, yang asli orang Jepang, dan yang senegara juga. Rasanya mengaji juga jadi giat saat datang ke masjid, karena semuanya berdengung-dengung membaca Qur`an. Aku jadi berusaha mengerut-erutkan alis dan bibirku agar menangis, mengikuti kawanku yang khusyuk bercucuran tangis memohon pada Allah. Semoga hatiku selalu diperhalus Allah setiap ramadhan.

Lebih spesial lagi tahun ini. Aku bisa berteman dekat dengan muallaf-muallaf baru yang menawan hati. Ada muslimah Jepang Vi, yang masuk Islam umur 20 tahun, karena terkesan saat bertemu orang Islam Kuwait yang berbudi baik. Ada Nur dari Mongol yang berislam umur 22 tahun, setelah pencarian tentang agama sejak 4 tahun yang lalu. Mereka spesial, karena masuk Islam bukan karena pernikahan seperti pada umumnya. Mereka masuk Islam, sebelum ada cinta pada satu pria, sebelum ada pasangan hidup yang bisa melindungi mereka jika dijauhi orang tua dan saudara, yang bisa menguatkan hati saat timbul kekhawatiran membentangkan sajadah di kampus, atau menyampirkan jilbab di kepala.

Itikaf tahun ini pun spesial. Suatu hari, aku bersama dengan saudari Jepang yang baru tiga tahun masuk Islam, sama sekali belum bisa mengaji. Dia menemukan Islam, setelah jauh berpetualang sampai Afrika, dan melihat keindahan matahari yang terbit dan tenggelam di garis khatulistiwa.

Lalu ada saudari yang seumuran Ibu, tapi giatnya bukan main belajar Qur`an. Saat zaman sedikit sekali guru mengaji, saudariku itu memutar kaset murottal sepuluh, duapuluh kali, dan bahkan sampai kasetnya rusak kepanasan. Karena ingin bisa ngaji, Bu. Sekarang aku salah satu temannya yang terkadang ditodong malam hari lewat telepon, untuk mengajar membaca ayat-ayat yang sulit. Alhamdulillah, bahasa Jepangku bisa dipakai untuk mengajar membaca kalimat suci Allah, Pak, Bu.

Malam itu aku ditodong untuk mengajarkan menghapal satu surat pendek untuk dua saudariku itu. Padahal aku ingin mengebut membaca Qur`anku agar bisa khatam. Tapi aku tak tega untuk menolaknya. Dan aku ajarkan surat an-Nashr, Bu.

Surat yang mengajarkan untuk memuji Allah dan beristighfar padaNya kalau datang kemenangan agama Allah. Kami juga berusaha menghayati, bahwa itu adalah surat yang membuat sahabat Ibnu Abbas melihat tanda-tanda Nabi akan segera meninggalkan mereka. Dan betapa hal itu membuat para sahabat bersedih hati karenanya.

Saat kami cerita tentang bagian mana dalam Islam dan Qur`an yang menarik, saudariku yang seumuran Ibu itu bilang, ia terkesan saat membaca satu ayat dalam surat Yasin, ”tidaklah mungkin bagi matahari mengejar bulan dan malam pun tidak dapat mendahului siang. ”. Yang lainpun mengiyakan, bahwa fenomena luar angkasa yang luas, adanya pagi dan malam, dan bergeraknya matahari dan bulan, sungguh sangat mengena bagi diri mereka dahulu yang sedang mencari sesuatu yang hilang.

Tahukah hadiah dari Allah untuk kami malam itu? Saat tiba shalat malam, sang imam membaca surat Yasin lengkap. Saudariku yang seumuran Ibu itu bercucuran air mata, matanya bulat terjaga, hilang seluruh kantuknya Duhai Ibu, aku sungguh ingin dirimu belajar mengaji. Kan kau sudah lama masuk Islam, jauh sebelum saudariku ini. Bukannya aku membandingkan Ibu dengan yang lain, tapi, ini pintaku sungguh kepada Ibu yang kusayang.

Lidah dan tenggorokan saudariku itu sulit mengeluarkan gho, lam, ro, dan lain sebagainya, tapi makin banyak diulang, aku makin merasakan pahala-pahala berloncatan datang untuk kami yang asyik belajar-mengajari. Terimakasih pada Bapak dan Ibu yang memanggilkan guru mengaji untuk aku dan kakak adik dulu sekali. Aku doakan semoga Bapak dan Ibu tambah dekat juga dengan Qur`an, meskipun aku tidak bisa mengajari engkau berdua sekarang.

Pak, Bu, penduduk negeri Matahari Terbit ini, banyak bersyukur pada matahari dan alam. Yakinlah aku, akan makin banyak lagi yang menyadari keberadaan Pencipta si matahari itu, dan suatu saat agama ini akan berjaya di negeri materialis ini.

Salam takzim dari tanah tumbuh dan hidupku selama lima tahun ini, semoga buncahan rindu ini berbuah untaian doa panjang yang dikabulkan; mengalirkan untaian syukur akan perjumpaan dan perpisahan; dan melahirkan penghargaan akan setiap anugerah waktu dan kesempatan. Pujian takbirku untuk Allah di hari kemenangan melawan hawa nafsu. Shalawat dan salamku pada Nabi, yang memberi tuntunan dalam dakwah, untuk membawa kemenangan agama Allah di bumi Jepang ini.

Putri Palupi Kusumaningrum, 1 Syawal 1428